banner 728x250

Kerukunan Bukan Hadiah: JALA SARA Indonesia Ajak Masyarakat Rawat Keberagaman

banner 120x600
banner 468x60

Kefamenanu, Radar Perbatasan

Atambua, 9 Juni 2026 –

banner 325x300

Kerukunan di tengah keberagaman bangsa Indonesia tidak hadir secara otomatis. Kerukunan harus diperjuangkan, dirawat, dan dipelihara secara terus-menerus oleh seluruh elemen masyarakat. Pesan inilah yang mengemuka dalam Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Atambua bersama Ketua Komunitas JALA SARA Indonesia, V. Sintu Lopes, yang dipandu penyiar Radio RRI Pro 1 Atambua Jeremias Amfotis, Selasa (9/6/2026) pukul 19.20–19.30 WITA.

Mengangkat tema “Kerukunan Bukan Hadiah”, dialog tersebut membahas berbagai tantangan dan peluang dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan pandangan hidup masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan itu, V. Sintu Lopes menegaskan bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya.
“Kerukunan adalah hasil dari kesadaran, komitmen, dan usaha bersama untuk saling menghormati perbedaan. Jika tidak diperjuangkan, maka perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan bisa berubah menjadi sumber perpecahan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah meningkatnya polarisasi sosial akibat penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, hoaks, ujaran kebencian, serta menurunnya budaya dialog di tengah masyarakat.

“Masyarakat sering lebih cepat bereaksi daripada memahami. Bahkan tidak jarang isu identitas dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan ekonomi yang berpotensi memecah belah persatuan,” jelasnya.

Perbedaan Bukan Sumber Konflik
Menanggapi pertanyaan mengenai masih relevankah perbedaan suku, agama, dan ras sebagai sumber konflik, Ketua JALA SARA Indonesia menegaskan bahwa sesungguhnya perbedaan bukanlah akar persoalan.

“Konflik muncul ketika perbedaan dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai kekayaan. Jika dikelola dengan baik, keberagaman justru menjadi kekuatan besar yang memperkokoh persatuan bangsa,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya literasi digital di era media sosial yang berkembang sangat cepat. Menurutnya, media sosial memiliki dua sisi yang berbeda.

“Media sosial dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan dan memperluas wawasan, tetapi juga bisa menjadi alat penyebaran hoaks, fitnah, dan provokasi. Karena itu masyarakat harus bijak dalam menggunakan media sosial,” ujarnya.
JALA SARA Indonesia Bangun Jembatan Persaudaraan

Sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang penguatan persaudaraan lintas identitas, JALA SARA Indonesia terus melakukan berbagai upaya membangun dialog dan kebersamaan.

Melalui kampanye perdamaian di media sosial, forum dialog, seminar kebangsaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, pertukaran budaya, aksi kemanusiaan, hingga pendidikan toleransi bagi generasi muda, komunitas ini berupaya menjadi jembatan pemersatu di tengah keberagaman masyarakat.

Khusus di wilayah perbatasan RI–RDTL, JALA SARA Indonesia mengedepankan pendekatan budaya dan kearifan lokal sebagai sarana memperkuat hubungan persaudaraan antara masyarakat yang memiliki sejarah dan akar budaya yang saling terkait.

Pentingnya Mengenal Budaya Orang Lain
Dalam dialog tersebut, V. Sintu Lopes juga menekankan pentingnya masyarakat mengenal budaya dan tradisi kelompok lain.

“Ketidaktahuan sering melahirkan prasangka. Ketika kita mengenal budaya dan tradisi orang lain, kita akan lebih mudah memahami, menghormati, dan menghargai mereka,” katanya.

Ia menambahkan bahwa prasangka dan stereotip dapat dicegah dengan membuka ruang perjumpaan, komunikasi, dan interaksi yang sehat antar kelompok masyarakat.

Peran Strategis Tokoh Agama dan Tokoh Adat
Menurutnya, tokoh agama dan tokoh adat memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga kerukunan di tingkat akar rumput.

Mereka tidak hanya menjadi teladan moral dalam membangun toleransi, tetapi juga berperan sebagai mediator ketika terjadi gesekan di tengah masyarakat.

“Nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia harus terus diwariskan oleh para tokoh agama dan tokoh adat kepada generasi muda,” ungkapnya.

Generasi Muda Penentu Masa Depan Indonesia
Dalam kesempatan itu, V. Sintu Lopes mengajak generasi muda untuk menjadi pelaku utama dalam merawat keberagaman.

Menurutnya, kaum muda perlu diberi ruang melalui berbagai kegiatan sosial, komunitas lintas budaya, diskusi kebangsaan, pelatihan kepemimpinan, hingga kampanye toleransi di media sosial.

“Generasi muda adalah agen perubahan yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan,” tegasnya.

Kemanusiaan Lebih Besar dari Perbedaan
Sebagai contoh inspiratif, ia menyoroti semangat gotong royong masyarakat Indonesia saat menghadapi bencana alam.

Di berbagai daerah, masyarakat dari latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda sering kali bersatu membantu sesama tanpa memandang identitas.

“Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa kemanusiaan selalu lebih besar daripada perbedaan identitas,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa ketika terjadi gesekan antar kelompok, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan penyebaran informasi yang belum tentu benar dan segera membuka ruang komunikasi serta dialog yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan aparat terkait.

Keberagaman Adalah Kekuatan Bangsa
Menutup dialog, Ketua JALA SARA Indonesia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan keberagaman sebagai sumber kekuatan bangsa.

“Indonesia berdiri bukan karena kesamaan, melainkan karena kesediaan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Jangan mudah terprovokasi oleh isu yang memecah belah. Bangunlah budaya dialog, saling menghormati, dan gotong royong. Kita boleh berbeda suku, agama, ras, budaya, dan pandangan, tetapi kita tetap satu keluarga besar Indonesia.”

Ia menutup dengan sebuah pesan reflektif:
“Kerukunan bukanlah warisan yang dapat dinikmati tanpa usaha, melainkan taman kebangsaan yang harus terus dirawat bersama. Semakin kita menghargai perbedaan, semakin kuat persatuan Indonesia.”ungkap Alumnus Seminari Lalian Atambua.

Dari Tapal Batas NKRI-TIMOR LESTE Komunitas JALA SARA Indonesia yang beralamatkan di Kampung Adat Maslete, Kefamenanu , Kabupaten TTU, Propinsi Nusa Tenggara Timur, terus bergiat untuk
“MENJALA HATI, GUNA MENJAGA NEGERI,DAN MENEBARKAN JALA PERDAMAIAN KE SELURUH PENJURU DUNIA.”

Reporter:Tim Humas Jala Sara Indonesia

banner 325x300
error: Content is protected !!