banner 728x250

Krisis Air Bintan Capai Titik Kritis: Waduk Kering Total, Bupati Roby ‘Kepung’ Bencana Lewat Jalur Darat, Udara, dan Langit

Kemarau ekstrem 2026 seret 24.479 KK ke dalam krisis air bersih. Pemkab Bintan kerahkan seluruh kekuatan OPD hingga rencana modifikasi cuaca dan Salat Istisqa

banner 120x600
banner 468x60

BINTAN, Radar Perbatasan.com – Kabupaten Bintan sedang tidak baik-baik saja. Alam seolah sedang menguji ketangguhan pulau di Kepulauan Riau ini. Sejak awal tahun, curah hujan seolah “mogok” turun. Akibatnya fatal: waduk-waduk penyangga air bersih menyusut drastis, bahkan satu di antaranya sudah menyerah, kering total.

Berdasarkan data BMKG, kondisi tahun 2026 ini bukan sekadar kemarau biasa. Ini adalah siklus “horor” metereologis yang menyamai keparahan tahun 1997 dan 2015 silam. Bayang-bayang krisis air pun nyata menyentuh dapur dan sumur warga.

banner 325x300

Menyikapi darurat ini, Bupati Bintan Roby Kurniawan tidak mau berpangku tangan. Dalam Rapat Koordinasi bersama FKPD di Kantor Bupati Bintan, pada Rabu, 25 Maret 2026, Roby langsung menyalakan “lampu merah” tanda siaga satu.

Gerak Cepat: Bagi Tugas di Darat

Roby menginstruksikan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk turun gunung. Tidak ada istilah kerja di balik meja selama warga masih menjerit karena air.

“Saya minta hari ini langsung dibagi, OPD mana bertanggung jawab di kecamatan mana. Susun skema penyalurannya. Camat dan Lurah harus punya data update warga terdampak. Kita kolaborasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan pihak swasta,” tegas Roby dengan nada instruktif.

Langkah jangka pendek ini menjadi harga mati. Seluruh armada pengangkut air akan dikerahkan untuk menyuplai titik-titik krisis. Data BPBD mencatat ada 24.479 Kepala Keluarga (KK) yang kini kesulitan air bersih, tersebar merata di hampir seluruh kecamatan, kecuali Mantang dan Tambelan yang masih relatif aman.

Strategi ‘Tiga Jalur’

Menariknya, Bupati muda ini tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik dan mesin. Dia meluncurkan strategi komprehensif yang dia sebut sebagai upaya tiga jalur:

* Jalur Darat: Mobilisasi tangki air bersih dari berbagai sumber potensial di luar PDAM untuk langsung menyentuh masyarakat.
* Jalur Udara: Mendukung penuh usulan modifikasi cuaca (hujan buatan) demi memancing awan-awan hujan kembali singgah di atas langit Bintan.
* Jalur Langit: Ini yang paling menyentuh. Roby mengajak seluruh jajaran dan masyarakat untuk bersimpuh memohon pertolongan Tuhan melalui Salat Istisqa.

“Jalur darat kita supply air, jalur udara melalui modifikasi cuaca jika memungkinkan, dan terakhir kita lengkapi ikhtiar kita lewat jalur langit. Kita mulai pusatnya di Kantor Bupati, lalu diikuti seluruh Kecamatan,” ungkap Roby.

Menanti Hujan Kembali

Secara geografis, Bintan memang memasuki masa curah hujan rendah pada Februari hingga Maret. Normalnya, hujan baru akan menyapa kembali di bulan April atau Mei. Namun, nihilnya hujan sejak Januari membuat cadangan air tanah dan waduk mencapai level yang mengkhawatirkan.

“Ikhtiar dan doa kita lakukan. Mudah-mudahan hajat kita diijabah agar kondisi segera normal kembali,” pungkasnya.

Bagi warga Bintan, air kini lebih berharga dari sekadar angka di meteran PDAM. Di tengah cuaca yang membakar, gerak cepat pemerintah daerah diharapkan mampu menjadi oase di tengah gersangnya bumi Bintan.

Editor: Budi Adriansyah

banner 325x300
error: Content is protected !!