Radar Perbatasan, Bintan – Sebuah kapal nelayan jenis pompong bernama KM Safira Jaya dilaporkan tenggelam di perairan Tambelan, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Peristiwa itu terjadi di laut lepas sekitar 40 mil di utara Pulau Tambelan, pada awal Januari 2026. Seluruh awak kapal berhasil diselamatkan oleh nelayan lain yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
Kapolsek Tambelan Aipda Abdurrahman Syam mengatakan, informasi awal diterima Polsek Tambelan pada Senin, 5 Januari 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, dari seorang warga bernama Rahmat Parwandi. Laporan tersebut menyebutkan adanya kapal nelayan yang tenggelam di perairan Tambelan.
“Informasi awal diterima oleh Kanit Intel Polsek Tambelan, Aipda Geri, melalui radio nelayan. Setelah itu langsung diteruskan ke piket Polsek Tambelan untuk dilakukan koordinasi,” kata Abdurrahman, Senin.
Berdasarkan hasil komunikasi radio dengan nelayan di laut, diketahui bahwa kapal yang tenggelam adalah KM Safira Jaya dengan nakhoda Muli Warman. Kapal tersebut membawa lima orang awak buah kapal (ABK).
Kronologi Kejadian
Menurut keterangan Muli Warman kepada pihak kepolisian, peristiwa bermula pada Sabtu, 3 Januari 2026 sekitar pukul 07.00 WIB. Saat itu, KM Safira Jaya bertolak dari Pulau Tambelan menuju lokasi pemancingan sekitar 40 mil laut dari pulau tersebut.
Sekitar pukul 12.00 WIB, kapal tiba di titik pemancingan dan berhenti untuk menangkap ikan. Namun pada sore hari, umpan yang tersedia habis. Nakhoda kemudian memutuskan berpindah ke lokasi lain sekitar 17 mil dari titik awal untuk mencari umpan.
Pada pukul 22.00 WIB, kapal tiba di area rumpon dan kembali melanjutkan perjalanan ke lokasi pemancingan semula. Namun dalam perjalanan, sekitar pukul 00.30 WIB, salah satu ABK bernama El merasakan kondisi kapal yang tidak normal.
“Setelah dicek, ternyata lambung kapal sudah dipenuhi air,” ujar Abdurrahman mengutip keterangan awak kapal.
Para ABK sempat berupaya menyelamatkan kapal dengan membuang sejumlah barang agar beban berkurang. Namun usaha tersebut tidak berhasil. Mereka kemudian menurunkan fiber berkapasitas satu ton sebagai alat penyelamatan.
Tiga orang, yakni Muli Warman, Iwan Kusnadi, dan Wahyu, berhasil naik ke dalam fiber. Sementara dua ABK lainnya, Fadhil dan El, tidak sempat naik akibat angin kencang dan gelombang tinggi. Keduanya bertahan dengan menggunakan tutup fiber sebelum akhirnya kapal tenggelam sekitar 10 menit kemudian.
Seluruh ABK Selamat
Sekitar pukul 04.00 WIB, tiga ABK yang berada di fiber berhasil diselamatkan oleh nelayan yang melintas di sekitar lokasi kejadian. Sementara dua ABK lainnya ditemukan dan diselamatkan oleh nelayan berbeda pada Senin pagi, 5 Januari 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, di perairan sekitar Tambelan.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” kata Abdurrahman.
Kerugian dan Imbauan
Akibat tenggelamnya kapal tersebut, kerugian material diperkirakan mencapai Rp400 juta, sementara korban jiwa nihil. Dugaan sementara penyebab kecelakaan adalah kebocoran pada lambung kapal.
Karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, aparat kepolisian bersama TNI dan masyarakat hanya dapat melakukan pemantauan dari Pelabuhan Rakyat Tambelan, tanpa turun langsung ke lokasi kejadian.
Kapolsek Tambelan mengimbau para nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan saat melaut.
“Kami mengingatkan nelayan untuk selalu menggunakan life jacket dan tidak memaksakan diri melaut apabila cuaca tidak mendukung,” ujarnya.
Editor: Budi Adriansyah

















