banner 728x250

Musda JMSI Kepri: Ketika Media Siber Diminta Waras di Tengah Internet yang Riuh

Di Batam, para pengelola media diingatkan bahwa tugas wartawan bukan cuma cepat, tapi juga selamatkan akal sehat publik

banner 120x600
banner 468x60

Radar Perbatasan, Batam – One Mall Batam, pada Senin, 15 Desember 2025, mendadak jadi tempat berkumpulnya orang-orang yang hidupnya tak jauh dari notifikasi, headline, dan deadline. Di sanalah Musyawarah Daerah (Musda) ke-2 Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) digelar, sebuah forum serius untuk membicarakan sesuatu yang makin langka di internet: kewarasan.

Musda ini bukan sekadar ajang ganti kepengurusan atau laporan pertanggungjawaban yang dibacakan dengan nada datar. JMSI Kepri memanfaatkannya sebagai momen konsolidasi, sambil diam-diam merenung: di tengah banjir informasi, apakah media masih sempat memikirkan kualitas, atau sudah terlalu sibuk mengejar klik?

banner 325x300

Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, lewat sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Bidang Humas dan Komunikasi Publik Diskominfo Kepri, Trio Andana, mengingatkan bahwa peran media siber hari ini tidak sesederhana “menyampaikan berita”.

“Media tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga penjaga nalar publik, penguat literasi digital, serta mitra pemerintah dalam menyampaikan program pembangunan secara objektif, berimbang, dan bertanggung jawab,” kata Trio, membacakan pesan Gubernur.

Kalau diterjemahkan bebas: media diharapkan tidak ikut-ikutan bikin gaduh, apalagi memperkeruh suasana dengan judul bombastis yang isinya setengah matang.

Sebagai provinsi kepulauan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Kepulauan Riau berada di jalur lalu lintas informasi global. Informasi datang cepat, kadang lebih cepat dari verifikasinya. Di titik inilah media siber diuji: mau jadi penjernih, atau justru ikut menambah keruh?

Ansar Ahmad menilai kehadiran JMSI penting untuk menjaga agar arus informasi tetap sehat. Bukan hanya soal menangkal hoaks, tapi juga soal menjaga persatuan dan membangun citra daerah. Karena di era digital, satu berita ngawur bisa keliling dunia lebih cepat dari klarifikasinya.

Musda ke-2 JMSI Kepri pun diposisikan sebagai momentum evaluasi. Bukan cuma mengevaluasi struktur organisasi, tapi juga cara media menyikapi zaman yang serba cepat, serba reaktif, dan sering kali serba emosional. Gubernur berharap Musda ini melahirkan kepengurusan yang solid, visioner, dan, yang tak kalah penting, tahan godaan klik bait murahan.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau juga menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan insan pers. Sinergi antara pemerintah dan media, kata Ansar, dibutuhkan agar pembangunan bisa dipahami publik, bukan malah dicurigai karena informasi yang setengah-setengah.

Di akhir sambutan, Pemprov Kepri menyampaikan apresiasi kepada JMSI Kepri atas upayanya menjaga profesionalisme dan etika jurnalistik di tengah media digital yang sering kali lebih sibuk viral daripada valid.

Musda ke-2 ini pun ditutup dengan harapan klasik, tapi relevan: semoga semua berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik. Sebab di tengah internet yang makin bising, media yang waras bukan sekadar kebutuhan, ia sudah jadi keniscayaan.

Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Iw

banner 325x300
error: Content is protected !!