Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Di Tanjungpinang, Desember tak lagi sekadar penanda akhir tahun. Ia menjelma menjadi bulan ujian kesabaran, terutama bagi dapur-dapur warga. Harga bahan pokok merangkak naik satu per satu, seolah berlomba menyalip logika pendapatan masyarakat. Dan ayam, lauk paling demokratis, kini ikut terbang tinggi meninggalkan jangkauan kantong rakyat.
Unggahan akun Lu Ronald Reagan di grup Facebook InfoPinang, Minggu, 14 Desember 2025, membuka tabir pelik persoalan ini. Menurutnya, persediaan ayam hidup di Tanjungpinang kian menipis, sementara permintaan terus membubung. Situasi makin runyam karena pasokan ayam dari Batam tersendat, tersangkut regulasi dan izin Bea Cukai yang disebutnya kini “super ketat”.
“Dulu Batam seperti FTZ, bebas pajak. Sekarang, keluar barang dari Batam wajib pajak,” tulisnya.
Masalahnya, lanjut dia, pendapatan warga Tanjungpinang tak setara dengan Batam. Dengan UMK sekitar Rp3 jutaan, penghasilan itu bahkan disebut tak cukup bertahan dua pekan untuk kebutuhan pokok.
Ironi pun berlapis. Ayam hidup yang tersisa di kandang lokal justru diburu pembeli dari Batam. Mereka berani membayar lebih mahal kepada pemotong ayam di Tanjungpinang untuk kemudian dibawa kembali ke Batam. Akibatnya, harga ayam di tingkat kandang naik, stok makin susut, dan pasar lokal kian megap-megap.
Kondisi di lapangan dikonfirmasi unggahan lain dari akun Yon Yunahar Ramly di grup yang sama. Dia menulis singkat tapi telak:
“Harga ayam potong ada yang sampai Rp50.000 per kilogram. Penjual bilang, stok ayam hidup sedikit.”
Harga ayam hanyalah satu simpul dari persoalan yang lebih besar. Musim hujan membuat sayur mayur mahal. Angin utara menahan nelayan melaut, ikan pun ikut melonjak. Cabai naik karena musibah di daerah penghasil. Bawang, wortel, brokoli, beras, ayam beku, daging, hingga minyak goreng tak luput dari efek ketatnya arus barang dari Batam.
Semua bertemu di satu titik: daya beli masyarakat yang jatuh bebas.
“Imbasnya mengerucut ke masyarakat,” tulis Lu Ronald Reagan.
Dia bahkan mengingatkan efek domino yang lebih mengkhawatirkan, angka kriminalitas berpotensi meningkat, dan UMKM satu per satu bisa tumbang karena bahan baku makin mencekik.
Desember yang seharusnya hangat oleh perayaan justru terasa dingin oleh kecemasan. Dapur mengecil, piring menipis, dan pilihan lauk makin terbatas. Harapan pun disematkan agar kondisi segera pulih, sebab jika terus begini, yang kenyang bukan perut rakyat, melainkan hanya daftar masalah yang kian panjang.
Di Tanjungpinang hari ini, ayam bukan lagi soal menu makan. Ia telah menjadi penanda krisis kecil yang dirasakan langsung oleh rakyat, tepat di meja makan mereka.
Editor: Budi Adriansyah

















