Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Pernyataan Anggota Komisi I DPR-RI Fraksi Gerindra, Endipat Wijaya, soal penanganan bencana di Sumatra berbuntut panjang. Alih-alih diterima sebagai masukan, ucapannya yang menyindir aksi penggalangan dana publik justru membuat tokoh-tokoh di Kepulauan Riau (Kepri) tersinggung.
Maskur Tilawahyu, tokoh Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri sekaligus Kepala Bidang Hukum lembaga tersebut, menjadi salah seorang yang paling vokal menanggapi. Dia menyebut pernyataan Endipat dalam video yang tengah viral itu “menggores harga diri masyarakat Melayu”.
“Beliau (Endipat) itu merusak nama baik Kepri. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan adab dan adat orang Melayu,” ujar Maskur kepada wartawan, dengan nada kecewa yang tak dia sembunyikan, pada Rabu, 10 Desember 2025.
Maskur mengingatkan, masyarakat Kepri terkenal menjunjung tinggi adab, bahkan kepada orang yang tak mereka kenal dekat sekalipun. Dia menyinggung bahwa pada masa pencalonan Endipat dulu, banyak warga Kepri yang tetap memberikan dukungan politik kepadanya.
“Sekarang, malah dia yang menjelekkan nama baik Kepri,” lanjut Maskur.
Solidaritas yang Sudah Terbukti Sejak Tsunami Aceh
Ketika Endipat mempertanyakan relevansi donasi publik yang mencapai Rp10 miliar, angka yang diyakini merujuk pada penggalangan dana konten kreator Ferry Irwandi, Maskur justru melihat itu sebagai bagian dari tradisi solidaritas masyarakat Kepri.
Dia mengingat masa Tsunami Aceh 2004, ketika masyarakat Kepri menginisiasi gerakan “Aksi Masyarakat Kepri Peduli Aceh.” Saat itu, bukan hanya uang yang dikumpulkan. Relawan-relawan dari Kepri turun langsung ke Aceh, bekerja di lapangan, dan ikut merasakan getir bencana.
“Gerakan solidaritas yang beradab itu sudah ada sejak dulu. Masyarakat Kepri tidak pernah tinggal diam kalau saudara-saudara kami tertimpa musibah,” tegasnya.
Sindiran Endipat: Cuma Nyumbang Rp10 Miliar
Endipat sebelumnya menyebut bahwa donasi publik senilai Rp10 miliar tidak sebanding dengan anggaran negara yang sudah “triliun-triliunan” digelontorkan untuk Aceh.
“Orang-orang cuma nyumbang Rp10 miliar. Negara sudah triliun-triliunan ke Aceh, Bu. Jadi yang kayak gitu-gitu mohon dijadikan perhatian,” ucapnya dalam video yang memancing reaksi luas.
Meski tak menyebut nama, publik langsung mengaitkannya dengan fenomena donasi kilat Ferry Irwandi yang berhasil menghimpun Rp10 miliar dalam 24 jam untuk membantu korban bencana di Sumatra.
Bagi Maskur, pernyataan itu bukan hanya meremehkan solidaritas warga Kepri, tapi juga seolah menyepelekan semangat tolong-menolong masyarakat yang bergerak secara sukarela.
Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Shd

















