Kefa, 02 – 07 – 2026
————–
*TANGAN MEDIS, JIWA ALTAR: Selamat Jalan Dokter Maksimus Mujur, Sang Penjaga Rahim dan Penyembuh Hati.*
*KOMUNIKASI JIWA DOKTER MAXI: Mengganti ‘Nasi’ dengan ‘Kasih’ bagi 30.000 Janin di Bumi.*
I: Sang Alumnus Altar di Altar Kemanusiaan.*
Dunia kedokteran dan kemanusiaan baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya. *Dokter Maksimus Mujur, Sp.OG,* berpulang di Bandung pada usia 67 tahun. Lahir di Cancar, Manggarai, Dokter Maxi tumbuh dalam asuhan keluarga Tionghoa dengan iman Katolik yang sangat akar-rumput. Sedemikian kuatnya lingkungan rohani masa kecilnya, beliau sempat diutus ke Seminari Kisol untuk menapaki jalan imamat. Namun, misteri panggilan Tuhan ternyata tidak mengikatnya di balik jubah sakramental, melainkan *Tuhan mengutusnya ke altar kemanusiaan yang lain: dunia kedokteran Universitas Airlangga.*
*II: Rahim Mama Sebagai Ruang Suci dan Filosofi Kasih.*
Pilihan hidupnya sebagai spesialis kandungan menjadi bukti nyata bahwa panggilan rohaninya tidak pernah padam.
Bagi Dokter Maxi, Rahim Mama bukan sekadar objek anatomis, melainkan *Ruang Suci tempat kehidupan pertama kali bersemi.* Selama 30 tahun pengabdiannya di RS Santo Borromeus Bandung—setelah melewati medan bakti yang menantang di Tual, Maluku, hingga Timor Leste—beliau telah menyentuh dan membantu kelahiran lebih dari 30.000 jiwa. Bagi pasangan muda, petuah ikoniknya selalu bergema: *”Utamakan kasih daripada nasi.”* Filosofi radikal ini beliau abadikan dalam bukunya, Komunikasi Jiwa, sebuah manifesto yang menegaskan bahwa kehamilan adalah ekspresi jiwa yang harus dirawat dengan cinta, bukan melulu dengan obat-obatan.
*III: Rumah Spiritual Kedua Bersama SKK Indonesia.*
Komitmennya pada penyembuhan holistik mempertemukannya dengan *Serikat Konfigurasi Kasih (SKK) Indonesia.* Di bawah nafas gerak yang diinisiasi oleh ‘Porat Antonius,’ Dokter Maxi menemukan rumah spiritual kedua. Melalui pilar Bimbingan Hidup Sehat (BHS) SKK, beliau menjadi pembicara yang membakar semangat lintas agama dan budaya. Beliau tidak menempatkan SKK sebagai lawan medis, melainkan sebagai kepingan pelengkap untuk menyembuhkan manusia dari kedalaman nurani.
*IV: Kehangatan di Jalan Cilaki dan Warisan Pendidikan Jiwa.*
Secara personal, mereka yang pernah singgah di kediamannya di Jalan Cilaki, Bandung, akan mengenang Dokter Maxi sebagai sosok ekstrover yang hangat. Rumahnya selalu terbuka, hatinya lapang, pribadi yang senantiasa ‘welcome’, tawanya meledak renyah, namun jiwanya tetap sederhana dan religius. Beliau adalah ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik kaum ibu tentang bagaimana menjaga janin selama sembilan bulan dalam kandungan melalui pendekatan jiwa.
*V: Jembatan Profan-Sakral dan Kepulangan Abadi.*
Kenangan personal berupa pemberian *Asbak rokok yang kini berada di Kefa, serta sebuah Kasula Hijau yang anggun,* menjadi simbol abadi bahwa *Dokter Maxi adalah jembatan antara yang profan (bumi) dan yang sakral (surga).*
Kini, tugasnya telah purna. Tuhan memanggilnya pulang ke surga, Tuhan lebih memerlukan dok Maxi, meninggalkan warisan kasih yang takkan lekang oleh waktu. Berkah Dalem, Dokter Maxi.
*Puisi Perpisahan untukmu kraengtua Maxi: Komunikasi Jiwa dari Cilaki.*
Judul: *”Kasula Hijau dan Meledaknya Tawa di Surga.”*
—————–
Di Jalan Cilaki yang sempit dan padat lalulintas itu, lampu-lampu meredup takzim,
menyisakan gema tawamu yang meledak riang, Dokter.
Engkau yang batal mengenakan jubah altar di Kisol,
justru menjadi imam bagi tiga puluh ribu nyawa lebih yang lahir ke bumi.
*Kepada SKK Indonesia,* serikat yang bernafas dalam nurani,
engkau tinggalkan pesan yang lebih tajam dari pisau bedah:
“Sembuhkanlah manusia dari dalam hatinya,
sebab obat terbaik adalah cinta yang tak bersekat rasa.”
*Kepada kaum ibu dan janin dalam rahim sembilan bulan,*
engkau bisikkan dari keabadian:
“Jangan takut pada gejala tubuh, karena rahim adalah rumah jiwa,
suamilah istrimu dengan kasih, bukan sekadar kenyang nasi.”
Dan…. *kepada kaum remaja, tunas-tunas masa depan,*
Dokter Maxi menitipkan sebaris doa:
“Sehatkan jiwamu sebelum menghadirkan kehidupan,
relasi yang suci akan melahirkan bayi-bayi yang suci.”
Sebuah asbak di Kefa masih menyimpan kehangatan jemarimu,
dan selembar Kasula Hijau kini menjadi saksi,
bahwa perjumpaan kita tidak pernah benar-benar usai.
Tuhan lebih rindu pada tawamu di surga, Dokter Maxi.
Selamat jalan, beristirahatlah dalam Berkah Dalem yang abadi. ,**
*TANGAN MEDIS, JIWA ALTAR: Selamat Jalan Dokter Maksimus Mujur, Sang Penjaga Rahim dan Penyembuh Hati.*
*KOMUNIKASI JIWA DOKTER MAXI: Mengganti ‘Nasi’ dengan ‘Kasih’ bagi 30.000 Janin di Bumi.*

















