banner 728x250

Wagub Kepri Minta SMK Tak Bergantung pada Simulasi, Industri Butuh Tenaga Siap Pakai

Di tengah serapan kerja tinggi lulusan SMK Batam, fasilitas praktik dan relevansi pelatihan masih jadi pekerjaan rumah

banner 120x600
banner 468x60

Radar Perbatasan, Batam – Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura menegaskan bahwa pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada simulasi. Dunia industri, terutama sektor perkapalan di Batam, membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai dan terampil secara nyata, bukan sekadar lulusan dengan sertifikat.

Penegasan itu disampaikan Nyanyang saat melakukan kunjungan kerja ke SMK Negeri 5 Kota Batam, Kecamatan Sagulung, pada Jumat, 9 Januari 2026. Dalam kunjungan tersebut, dia meninjau langsung fasilitas pelatihan dan berdialog dengan siswa serta pihak sekolah mengenai kesiapan sarana praktik.

banner 325x300

Nyanyang secara terbuka mempertanyakan kelengkapan fasilitas pembelajaran, mulai dari simulator kapal, peralatan pengelasan, hingga kesiapan laboratorium teknik. Dia menilai pelatihan berbasis praktik masih menjadi tantangan utama bagi sebagian sekolah vokasi.

“Kalau bisa bukan hanya simulasi, tapi langsung praktik. Karena yang dibutuhkan industri adalah keterampilan riil, bukan teori,” ujar Nyanyang.

Dia menyoroti sektor pengelasan sebagai contoh konkret. Menurutnya, penguasaan manual welding, automatic welding, hingga standar pengelasan profesional menjadi syarat utama untuk bisa bersaing di galangan kapal dan kawasan industri di Kepulauan Riau.

Batam sendiri dikenal sebagai salah satu pusat industri maritim nasional. Puluhan galangan kapal beroperasi di wilayah ini, dengan kebutuhan tenaga kerja terampil yang terus meningkat. Namun, kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan lulusan masih kerap dikeluhkan pelaku usaha.

Nyanyang mengungkapkan, pada 2025 sekitar 90 persen lulusan SMK di Kota Batam terserap ke dunia kerja. Angka ini, kata dia, menunjukkan potensi besar pendidikan vokasi di Kepri, sekaligus menjadi alarm agar kualitas pelatihan terus dijaga.

“Serapan kerja tinggi tidak boleh membuat kita lengah. Kalau tidak dibekali keterampilan yang relevan, lulusan akan kalah bersaing,” kata dia.

Selain langsung bekerja, Nyanyang menyebut lulusan SMK juga memiliki jalur lain, mulai dari melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti ITB hingga bekerja ke luar negeri, terutama Singapura dan Malaysia. Namun peluang itu, menurutnya, hanya terbuka bagi lulusan yang benar-benar kompeten.

Dalam kunjungan tersebut, Nyanyang berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dan pihak sekolah untuk meningkatkan fasilitas pelatihan dan laboratorium agar selaras dengan kebutuhan industri.

Dia juga menyinggung Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepulauan Riau yang berada di peringkat tiga nasional. Capaian itu, kata dia, mencerminkan kualitas generasi muda Kepri, namun tetap membutuhkan dukungan sistem pendidikan yang disiplin dan adaptif.

“Anak-anak Kepri itu pintar. Tantangannya tinggal disiplin dan kesiapan sistem pendidikannya,” ujarnya.

Ke depan, Nyanyang mendorong SMK di Kepulauan Riau tidak hanya fokus mencetak tenaga kerja, tetapi juga mengembangkan kurikulum kewirausahaan. Dia menilai ketergantungan pada industri sebagai penyerap tenaga kerja perlu diimbangi dengan kemampuan menciptakan usaha sendiri.

“Kita tidak boleh hanya menyiapkan pekerja. Kita juga harus melahirkan wirausaha dan manajer yang bisa membuka lapangan kerja,” kata Nyanyang.

Dalam kunjungan itu, Nyanyang didampingi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Wilayah Batam Kasdianto, Kepala SMK Negeri 5 Batam Henra Debeny, serta sejumlah undangan lainnya.

Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Iw

banner 325x300
error: Content is protected !!