TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Di pinggiran kota Ashgabat, Turkmenistan, sosok Raja Ali Haji berdiri gagah setinggi 3,5 meter di Magtymguly Pyragy Park. Ia tidak sendiri; patung perunggu pujangga besar asal Pulau Penyengat ini bersanding dengan 23 tokoh literatur dunia, mulai dari William Shakespeare hingga Rabindranath Tagore.
Keberadaan patung tersebut bukan sekadar pajangan. Ini adalah pengakuan internasional atas kontribusi Raja Ali Haji sebagai fondasi bahasa Melayu yang kelak menjadi Bahasa Indonesia.
Namun, keberadaan monumen di negeri yang berjarak 6.600 kilometer itu memantik sebuah refleksi mendalam: jika Turkmenistan saja begitu memuliakan sang pujangga, bukankah sudah sewajarnya tanah kelahirannya melakukan hal yang sama?
Jawaban untuk Sang Pujangga
Pertanyaan itu kini terjawab. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) segera merealisasikan pembangunan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat. Proyek ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat ekosistem kebudayaan yang akan mengukuhkan Penyengat sebagai tanah lahir Bahasa Indonesia.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menegaskan bahwa monumen ini adalah langkah strategis untuk memperkuat identitas bangsa sekaligus menjaga marwah sejarah.
“Pembangunan Tugu Bahasa ini menegaskan bahwa Pulau Penyengat adalah tempat lahirnya akar Bahasa Indonesia. Ini kebanggaan sekaligus penguatan identitas sejarah dan budaya kita,” ujar Ansar.
Apa Saja yang Akan Dibangun?
Proyek yang rencananya dimulai bulan ini dirancang dengan standar internasional untuk menjadi landmark kebanggaan nasional. Ada dua komponen utama yang menjadi daya tarik:
• Monumen Tugu Bahasa: Berlokasi di Bukit Kursi, lokasi ini menawarkan pemandangan panoramik (360 derajat) ke arah Tanjungpinang, Dompak, hingga Batam. Pengunjung bahkan dimanjakan dengan fasilitas lift untuk mencapai bagian puncak tugu.
• Museum Bahasa: Sebuah pusat edukasi interaktif yang akan memamerkan perjalanan panjang Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia. Di sini, arsip sastra klasik akan disajikan dengan sentuhan teknologi modern agar mudah dinikmati generasi muda.
Warisan untuk Masa Depan
Lebih dari sekadar tugu, proyek ini diproyeksikan menjadi multiplayer effect bagi ekonomi lokal. Dengan menggabungkan konsep wisata sejarah dan edukasi, Pulau Penyengat diharapkan menjadi magnet wisata internasional yang mampu menarik perhatian dunia.
Jika Turkmenistan mampu merawat kenangan tentang Raja Ali Haji dengan begitu megah, maka pembangunan Tugu Bahasa di Pulau Penyengat adalah langkah tepat. Ini bukan hanya tentang membangun monumen, tapi tentang memastikan bahwa akar sejarah bangsa tetap hidup, fungsional, dan dihormati di rumahnya sendiri.
Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Andri

















