Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Basyaruddin Idris alias Tok Oom akhirnya menuntaskan perjalanan panjang pendidikannya. Sosok yang dikenal sebagai salah satu pelopor berdirinya Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) itu resmi diwisuda dan menyandang gelar Sarjana Hukum (SH).
Tok Oom merupakan mahasiswa perdana UMRAH saat kampus tersebut mulai menerima mahasiswa pada 2008. Dia sempat menjalani perkuliahan hingga empat semester. Namun, kesibukannya sebagai bagian dari tim sukses Pilkada Gubernur Kepulauan Riau 2010 membuatnya harus menghentikan kuliah.
“Waktu itu sudah semester empat atau lima, bahkan sudah KKN. Tapi karena kesibukan Pilkada, kuliah terpaksa berhenti,” ujar Tok Oom, pada Minggu, 8 Februari 2026.
Setelah kuliah tertunda cukup lama, Tok Oom akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan pada 2020. Dia menyelesaikan studinya pada periode 2020-2025. Meski hampir kembali terhenti pada 2024 akibat dinamika kampanye politik, Tok Oom berhasil bertahan hingga akhir.
“Alhamdulillah akhirnya selesai dan bergelar SH,” katanya.
Sidang skripsi menuju yudisium dijalani pada 28 Maret 2026, dan Tok Oom resmi berhak menggunakan gelar Sarjana Hukum. Dengan kelulusan ini, Tok Oom kini sah menjadi alumni UMRAH, kampus yang sejak awal ikut dia perjuangkan berdirinya.
Dalam kesempatan itu, Tok Oom menyampaikan rasa terima kasih kepada sang istri, Sulaiha, S.Sos, MM, yang selama ini terus memberikan dukungan.
“Terima kasih istriku yang selama ini telah memberi support,” ujarnya.
Dia juga memberikan pesan kepada para sarjana muda agar tetap bersemangat menghadapi masa depan.
“Ini adalah awal yang sangat ganas dengan tantangan yang hebat menuju kesuksesan. Hadapi tantangan itu untuk meraih masa depan. Kalian pasti bisa,” pesan Tok Oom.
Peran Tok Oom dalam Lahirnya UMRAH
Tok Oom mengenang awal mula lahirnya gagasan pendirian perguruan tinggi negeri di Kepulauan Riau. Dia masih mengingat dengan jelas momen 1 Juli 2004, saat Ismeth Abdullah dilantik sebagai Penjabat Gubernur Kepulauan Riau. Tidak lama setelah pelantikan tersebut, Ismeth segera membentuk sebuah tim yang ditugaskan untuk mewujudkan berdirinya perguruan tinggi negeri di Kepri.
Saat itu, Ismeth menggelar rapat di Kantor Gubernur, Sekupang, dan mengumpulkan aktivis serta tokoh yang terlibat dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepri. Dalam pertemuan tersebut, muncul gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi di Kepri.
“Beliau mengatakan, kita harus bikin perguruan tinggi di Kepri,” kenang Tok Oom.
Gagasan itu kemudian dikonsultasikan kepada Pj Sekda Kepri saat itu, Said Jaafar, serta Abdul Malik yang menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kepri. Hasilnya, pada Oktober 2005, terbit Surat Keputusan pendirian pendidikan tinggi yang menjadi cikal bakal UMRAH.
Berikut ini adalah tim konsorsium yang berperan dalam pendirian Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH):
Abdul Malik ditunjuk sebagai ketua, sementara Ketua Yayasan Raja Ali Haji dijabat Suhajar Diantoro. Setelah itu, tim pendiri melakukan berbagai kunjungan ke kampus-kampus besar di Indonesia, seperti UI, UGM, ITB, dan Unhas.
UMRAH mulai menerima mahasiswa perdana pada 2008, dengan jumlah pendaftar sekitar 40-50 orang. Proses perkuliahan sempat berpindah-pindah lokasi, mulai dari STISIPOL, SMA Negeri 4 di Jalan Pemuda, hingga Politeknik Senggarang.
Kini, hampir dua dekade sejak UMRAH berdiri, Tok Oom menutup perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa. Dari pelopor pendirian kampus hingga akhirnya resmi menjadi alumni, kisah Tok Oom menjadi bukti bahwa pendidikan bisa tertunda, tetapi tidak pernah terlambat untuk diselesaikan.
Pengalaman Digembleng Lemhannas RI
Selain pencapaian akademik, Tok Oom juga berbagi pengalaman berharga saat mengikuti Pendidikan Wawasan Kebangsaan dan Kedaulatan NKRI yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI pada 2024.
Tok Oom tercatat sebagai peserta Lemhannas RI dengan Nomor Tanda Anggota 5044/TABLAIKBS KEPRI-II/VIII/2024. Pendidikan tersebut berlangsung sekitar satu bulan dengan disiplin tinggi dan jadwal yang padat.
“Ini luar biasa sekali. Kami benar-benar digembleng untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Aktivitas peserta dimulai sejak pukul 05.00 WIB, dilanjutkan pembelajaran dari pukul 07.30 WIB hingga malam hari, yang kerap berakhir pukul 22.00 bahkan 23.00 WIB.
Menurut Tok Oom, pendidikan Lemhannas bukan sekadar teori, melainkan pembentukan karakter kebangsaan dan ketahanan nasional.
“Kami dilatih dan diberi wawasan sebagai bagian dari ketahanan nasional untuk menjaga NKRI tetap utuh dan berdaulat,” jelasnya.
Peserta juga diajak merefleksikan beratnya perjuangan para pahlawan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Kami diingatkan kembali betapa susahnya para pejuang dan pahlawan mempertahankan bangsa dan negara ini,” katanya.
Tok Oom berharap wawasan kebangsaan yang diperolehnya dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sebagai wujud nyata kecintaan terhadap Indonesia.
Editor: Budi Adriansyah

















