banner 728x250

Refleksi 25 Tahun IMMALA Kupang Merawat Ingatan, Meneguhkan Perjuangan Hodi Hader Rai Malaka

Oleh : Agustinus Nahak, S.Si Salah satu orang tua pendiri IMMALA Kupang

banner 120x600
banner 468x60

Dua puluh lima tahun merupakan rentang waktu yang panjang dalam perjalanan sebuah organisasi. Seperempat abad keberadaan Ikatan Mahasiswa Malaka (IMMALA) Kupang tidak semata menandai usia organisasi kemahasiswaan kedaerahan, melainkan mencerminkan proses panjang pembentukan karakter, penumbuhan kesadaran sosial, serta pemantapan tanggung jawab moral sebagai renu Rai Malaka.

banner 325x300

IMMALA Kupang lahir dari kegelisahan dan harapan mahasiswa asal Fehan Malaka yang pada masanya merasakan keterbatasan ruang ekspresi, advokasi, dan partisipasi dalam dinamika sosial-politik daerah. Pada periode ketika Malaka masih berada dalam wilayah Kabupaten Belu, ketimpangan pembangunan dan keterpinggiran daerah menjadi realitas yang dirasakan bersama. Dalam konteks itulah muncul kesadaran bahwa mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton sejarah, melainkan turut hadir sebagai subjek perubahan.

Berbekal pengalaman pergerakan dan dinamika organisasi mahasiswa pada awal 1990-an, termasuk keterlibatan sebagai Sekretaris Ikatan Keluarga Belu Yogyakarta (IKABE Jogja) periode 1992–1993 bersama Ketua KK Alfridus Bria Seran, diskusi-diskusi bersama mahasiswa asal Malaka di Kupang kemudian melahirkan IMMALA Kupang. Kepengurusan perdana dipercayakan kepada adik Claudius Kapu sebagai ketua, bersama sejumlah pengurus awal antara lain adik Polce Tahu, adik Hendrik Fahik, dan rekan-rekan lainnya. Sejak awal, IMMALA Kupang diarahkan sebagai rumah belajar bersama—ruang untuk mengasah daya pikir kritis, membangun kapasitas kepemimpinan, serta menumbuhkan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Dalam perjalanan 25 tahun tersebut, IMMALA Kupang tentu tidak luput dari berbagai dinamika internal organisasi. Fase pertumbuhan, stagnasi, konflik, serta tantangan regenerasi merupakan bagian dari proses pendewasaan organisasi. Namun justru melalui dinamika inilah daya tahan dan konsistensi nilai IMMALA diuji.

Keberlanjutan IMMALA Kupang hingga hari ini, bahkan diikuti dengan terbentuknya cabang-cabang IMMALA di Bali, Malang, Yogyakarta, dan Jakarta, menunjukkan bahwa kekuatan kolektif dan komitmen bersama mampu melampaui kepentingan personal maupun generasional.

Refleksi 25 tahun ini menegaskan bahwa sejarah IMMALA tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Sejarah harus ditempatkan sebagai sumber pembelajaran, koreksi, dan penguatan arah gerak organisasi. Tantangan generasi mahasiswa saat ini semakin kompleks, ditandai oleh disrupsi digital, krisis kepercayaan publik, kecenderungan pragmatisme politik, serta derasnya arus informasi yang kerap mengaburkan idealisme. Dalam situasi tersebut, IMMALA Kupang dituntut untuk tetap relevan, adaptif, dan konsisten dalam menyuarakan kepentingan publik dengan argumentasi yang rasional, etika yang kuat, serta keberpihakan yang jelas kepada masyarakat kecil dan terpinggirkan.

Ke depan, IMMALA Kupang bersama seluruh jejaring IMMALA di berbagai daerah perlu terus menegaskan perannya sebagai:

Ruang kaderisasi yang berkelanjutan dan sehat, yang melahirkan kader berintegritas, berkarakter, dan berorientasi pada pengabdian, bukan sekadar pengurus struktural tahunan.

Kekuatan intelektual dan moral, yang kritis, objektif, dan proporsional dalam merespons serta mengawal kebijakan publik, khususnya yang berdampak pada masyarakat Rai Malaka.

Jembatan pengabdian dan advokasi, yang menghubungkan dunia kampus, masyarakat, serta nilai-nilai kultural Rai Malaka—Rai Moris Fatik.

Warisan paling berharga dari perjalanan IMMALA Kupang bukanlah jabatan, pengaruh, atau popularitas, melainkan nilai-nilai kejujuran, keberanian moral, solidaritas, dan keberpihakan pada renu Rai Malaka. Nilai-nilai inilah yang harus terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.

Akhirnya, refleksi 25 tahun IMMALA Kupang menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam merawat organisasi ini dengan pikiran yang jernih dan hati yang tulus—neon ida, laran ida, Hodi Hader Rai Moris Fatik.

IMMALA Kupang bukan milik satu angkatan atau satu generasi, melainkan bagian dari sejarah kolektif yang memikul tanggung jawab masa depan.**

banner 325x300
error: Content is protected !!