Kefamenanu – 4 April 2026
Ketua Presidium Gerakan Masyarakat (GERMAS) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kefamenanu, Yohanes Niko Seran Sakan, menyoroti dugaan lemahnya pengawasan terhadap praktik penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Menurut Yohanes Niko Seran Sakan, aktivitas penyelundupan tersebut tidak lagi bersifat insidental, melainkan telah menunjukkan pola yang berulang dalam kurun waktu singkat.
Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan pihaknya, sejak 20 Maret 2026 tercatat sedikitnya tiga kali aksi penyelundupan.
“Dalam satu kali penyelundupan ditemukan empat jerigen berkapasitas 35 liter. Jika diakumulasi, total BBM yang berhasil diselundupkan mencapai sekitar 420 liter. Ini bukan lagi kejadian sporadis, tetapi sudah mengarah pada pola yang sistematis,” jelas Yohanes Niko.
Ia juga menyoroti fakta bahwa dalam beberapa kasus, upaya penyelundupan justru berhasil digagalkan oleh aparat penjaga perbatasan Timor Leste. Sementara itu, di sisi Indonesia, aktivitas serupa dinilai kerap lolos tanpa hambatan berarti.
“Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait efektivitas pengawasan. Jika berulang kali terjadi dan selalu bisa melewati pos pengamanan, maka patut diduga adanya kelemahan sistem, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya pembiaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yohanes Niko Seran Sakan mengungkap adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dalam praktik ilegal tersebut. Namun ia menekankan bahwa dugaan itu harus dibuktikan melalui proses evaluasi internal yang transparan dan akuntabel oleh institusi terkait.
“Kami tidak ingin berspekulasi, tetapi indikasi yang ada perlu ditindaklanjuti secara serius. Harus ada audit terbuka agar kepercayaan publik tidak semakin menurun,” ujarnya.
Dalam pandangannya, praktik penyelundupan BBM tidak hanya berdampak pada kerugian ekonomi negara, tetapi juga berpotensi melemahkan ketahanan energi nasional, terutama di wilayah perbatasan yang rentan.
“Ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa. Kebocoran distribusi energi di perbatasan bisa mengganggu stabilitas pasokan bagi masyarakat dan dalam jangka panjang berdampak pada ketahanan energi nasional,” jelas Yohanes Niko.
Ia menambahkan, di tengah dinamika global seperti fluktuasi harga minyak dunia dan ketergantungan terhadap impor energi, pengawasan distribusi BBM harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Atas dasar itu, Yohanes Niko Seran Sakan mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera melakukan audit serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di pos lintas batas negara.
“Negara tidak boleh kalah oleh praktik ilegal di wilayah perbatasan. Jika tidak ada langkah tegas, kami siap membuka data kepada publik dan mengambil langkah aksi sebagai bentuk kontrol sosial,” tegasnya.
Sebagai Presidium GERMAS PMKRI Cabang Kefamenanu, Yohanes Niko Seran Sakan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu-isu strategis di wilayah perbatasan, termasuk praktik penyelundupan yang dinilai mencederai kedaulatan negara.
Editor : Boni Atolan

















