banner 728x250

Petaka Makanan Bergizi Gratis di Anambas: 155 Pelajar Keracunan

Tragedi Nasi Kotak Yayasan Pangan, Korban Tersebar di PAUD hingga SMP Siantan Tengah

banner 120x600
banner 468x60

ANAMBAS, Radar Perbatasan.com – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang kesehatan siswa, justru berubah menjadi petaka di Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas. Hingga Kamis 16 April 2026, tercatat sebanyak 155 pelajar menjadi korban keracunan massal.

Para korban datang dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat PAUD hingga SMP. Tak hanya menyasar anak-anak, efek racun makanan ini juga merembet ke sejumlah orang dewasa yang ikut mencicipi jatah makanan tersebut di rumah.

banner 325x300

Kronologi dan Penanganan Medis

Gejala mulai muncul sekitar tiga jam setelah para siswa menyantap makan siang pada pukul 10.00 WIB. Rasa mual yang hebat dan muntah-muntah serentak menyerang para pelajar, dimulai dari laporan pertama di SMP Negeri 1 Air Nangak, lalu meluas ke wilayah Air Sena dan Air Asuk.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kepulauan Anambas, Feri Oktavia, memastikan bahwa seluruh korban telah dievakuasi ke fasilitas medis terdekat.

* RSUD Palmatak: Menangani 114 pasien.
* Puskesmas Siantan Tengah: Menangani 41 pasien.

“Penanganan terus berlangsung hingga pagi tadi. Sebanyak 136 pelajar sudah membaik dan diperbolehkan pulang, sementara 19 orang lainnya masih harus menjalani perawatan intensif untuk pemantauan lebih lanjut,” ujar Feri.

Satu Dapur, Banyak Sekolah

Investigasi awal menunjukkan bahwa seluruh makanan yang dikonsumsi berasal dari satu sumber yang sama. Makanan tersebut diproduksi oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Yayasan Pangan Intan Permata.

Dinas Kesehatan bergerak cepat dengan mengamankan sejumlah sampel makanan yang dicurigai sebagai biang keladi, di antaranya:

* Nasi putih dan telur sambal kecap.
* Tumis sawi, wortel, dan buncis.
* Tempe goreng.
* Buah kelengkeng.

Uji Laboratorium ke Batam

Untuk memastikan jenis racun atau bakteri yang terkandung, sampel makanan tersebut kini tengah diteliti secara mendalam.

“Kami menggunakan alat yang tersedia di sini, namun sampel juga kami kirimkan ke BPOM dan Labkesmas di Batam agar hasilnya lebih akurat dan komprehensif,” tambah Feri.

Meskipun sebagian besar korban sudah kembali ke rumah, pihak Dinas Kesehatan berkomitmen untuk terus memantau kondisi mereka melalui komunikasi rutin dengan orang tua siswa guna mengantisipasi adanya gejala susulan. Kasus ini kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah terkait standar keamanan pangan dalam program Makanan Bergizi Gratis.

Editor: Budi Adriansyah
Penulis: II

banner 325x300
error: Content is protected !!