banner 728x250

Perempuan sebagai Tiang Negeri: Pesan Kuat Ketua TP PKK NTT dalam Penutup Kunjungan Kerja 2025 di Malaka”

Laporan Boni Atolan - Wartawan

banner 120x600
banner 468x60

Malaka –

Desa Umutnana, Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Malaka, berubah menjadi pusat perhatian publik Nusa Tenggara Timur pada Jumat, 5 Desember 2025. Sejak matahari terbit, ratusan warga mulai memadati ruas jalan menuju kantor desa. Tua adat, tokoh masyarakat, Pastor Paroki Kotafoun Romo Bala, aparat desa, para guru, hingga pelajar SD, SMP, dan SMA berdiri berjajar menyambut kedatangan rombongan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena. Janur kelapa dipasang rapi di sepanjang jalan masuk, memberikan kesan sakral yang biasanya hanya tampak pada prosesi bulan Maria. Hari itu, Desa Umutnana menyuguhkan yang terbaik yang mereka miliki.

banner 325x300

Kunjungan ini bukan kunjungan biasa. Ini adalah penutup seluruh rangkaian kunjungan kerja PKK Provinsi NTT sepanjang tahun 2025, menjadikan Malaka sebagai titik klimaks, sekaligus ruang refleksi bersama antara masyarakat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten.

Rombongan Ketua TP PKK Provinsi tiba didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Malaka, Ny. Beatrix Bria Seran, Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Malaka, Bupati Malaka, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Kehadiran lengkap jajaran PKK dan pemerintah daerah mempertegas momentum ini sebagai pertemuan strategis antara program provinsi dan implementasi kabupaten.

Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kesiapan masyarakat. “Persiapan hari ini luar biasa. Saya bangga dengan masyarakat Umutnana. Terima kasih untuk kerja keras dan sambutan luar biasa ini,” ujarnya.

Namun sorotan utama hari itu tertuju pada sambutan Ketua TP PKK Provinsi NTT. Dengan tenang dan penuh empati, ia menyampaikan sebuah pesan besar tentang posisi perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.

Perempuan sebagai Tiang Keluarga dan Fondasi Daerah

Dalam sambutannya, Ketua TP PKK menyebut bahwa perempuan adalah “tiang bangunan keluarga”. Jika tiang itu kuat, kokoh, terawat, dan berdaya, maka seluruh bangunan keluarga berdiri stabil. Sebaliknya, jika tiang rapuh, seluruh struktur kehidupan rumah tangga dapat runtuh. Konsep ini bukan sekadar metafora; ia mendorong seluruh masyarakat memahami bahwa pemberdayaan perempuan bukan agenda sampingan, melainkan pondasi pembangunan daerah.

“Kalau seorang ibu bahagia, maka keluarganya kuat. Jika keluarga kuat, daerah juga kuat.” ujarnya.

Pesan ini disampaikan dalam situasi sosial yang terus berubah. Perempuan masa kini menghadapi tantangan berbeda dari satu dekade lalu: akses teknologi informasi yang masif, tuntutan ekonomi, beban domestik, serta ancaman sosial seperti kekerasan, pergaulan bebas, perdagangan orang, hingga prostitusi digital.

Karena itu, Ketua TP PKK menekankan pentingnya pembekalan perempuan dengan keterampilan baru, literasi digital, wawasan parenting modern, kemampuan ekonomi, dan pemahaman hak-hak dasar perempuan dan anak.

PKK Bukan Organisasi Perempuan, tetapi Organisasi Keluarga

Dalam kunjungan ini, Ketua TP PKK juga menyoroti peran PKK sebagai organisasi keluarga, bukan hanya perempuan. Posyandu juga ditegaskan sebagai ruang partisipasi seluruh warga, termasuk laki-laki.

Ia menegaskan bahwa salah satu kesalahan cara pikir masyarakat adalah menganggap PKK identik dengan “ibu-ibu saja”. Padahal PKK didesain sebagai organisasi 10 program yang menyasar semua aspek kehidupan rumah tangga dan masyarakat.

Ia meminta pemerintah desa memberi ruang bagi kader PKK dan Posyandu untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.
“Ajak mereka bicara soal anggaran, soal program desa. Jangan hanya dilibatkan sebagai pelaksana, tapi juga sebagai perencana.”

Pesan ini penting, sebab minimnya partisipasi perempuan dalam forum resmi desa sering menyebabkan kebutuhan perempuan—termasuk kebutuhan anak dan keluarga—tidak masuk dalam anggaran.

Komunikasi Keluarga Modern: Tantangan Baru Orang Tua

Ketua TP PKK NTT juga menyinggung perubahan karakter remaja masa kini. Baginya, anak zaman sekarang hidup dalam situasi budaya yang berbeda secara drastis dari generasi sebelumnya. Hal ini menuntut orang tua belajar cara komunikasi baru.

“Anak sekarang itu berbeda. Kalau mau dekat dengan mereka, kita harus belajar cara bicara anak-anak zaman sekarang. Tidak bisa lagi memakai cara lama.”

Baginya, banyak persoalan remaja muncul bukan karena mereka nakal, tetapi karena keluarga tidak mengikuti perkembangan zaman. Ia mengajak orang tua membuka diri terhadap lingkungan digital dan memanfaatkan teknologi secara positif. YouTube, TikTok, dan platform digital lainnya harus menjadi ruang belajar bagi ibu-ibu: belajar memasak, keterampilan rumah tangga, bisnis kecil, hingga content creation.

Kreativitas Anak Malaka sebagai Simbol Harapan Baru

Salah satu momen paling berkesan bagi Ketua TP PKK adalah penampilan tarian tradisional oleh anak-anak Desa Umutnana. Tarian yang memadukan gerakan tradisional dan lagu-lagu modern itu menggugah decak kagum. Baginya, seni adalah salah satu cara membangun karakter dan rasa percaya diri anak.

“Gerakan dan musiknya sangat kreatif. Tinggal ditambah narasi supaya pesannya lebih kuat.”

Ia menyebut bahwa kreativitas seperti ini harus terus didorong oleh sekolah, desa, dan gereja, karena menjadi bagian dari penguatan identitas anak dalam menghadapi perubahan zaman.

Penutup: Harmoni, Kebersamaan, dan Salam Keberagaman

Dalam penutup kunjungannya, Ketua TP PKK menyampaikan salam lintas agama sebagai simbol persatuan masyarakat Nusa Tenggara Timur. Ia mengajak masyarakat meninggalkan polarisasi politik pasca-Pemilu dan kembali fokus membangun Malaka dan NTT.

Ia juga meminta agar tokoh agama tidak hanya mengkritik pemerintah, tetapi turut mendoakan dan mendukung para pemimpin dalam tugas pelayanan publik.

“Jangan hanya marah kalau pemerintah salah. Doakan juga agar pemerintah diberi kekuatan.”

Kunjungan tersebut bukan sekadar acara formal, melainkan momentum besar yang menegaskan bahwa perempuan adalah pusat perubahan dan bahwa masa depan NTT sangat bergantung pada ketahanan keluarga di akar rumput.**

banner 325x300
error: Content is protected !!