Homili Minggu Biasa XXX: Iman Sejati Terlihat dari Keberanian Mengasihi Sesama Tanpa Batas
OEBUFU, Radar Perbatasan – Kasih tidak cukup diucapkan dalam doa, dilantunkan dalam ibadat, atau dikhotbahkan dari mimbar gereja. Kasih sejati harus menjelma dalam tindakan nyata, terutama terhadap mereka yang lemah, tersisih, dan kerap kehilangan suara di tengah masyarakat.
Pesan tajam ini menjadi inti homili P. Domi Kadju Dheo, SVD, Koordinator JPIC SVD Timor, dalam refleksi Sabda Tuhan untuk Minggu Biasa XXX, 25 Oktober 2026, di Soverdi Oebufu.
Mengangkat tema “Hanya Ada Satu Perintah: Cinta Kasih”, P. Domi mengajak umat dan para pejuang Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) untuk kembali memahami inti ajaran Kristiani: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Menurut dia, kasih menjadi bahasa yang paling nyaring di muka bumi karena Allah adalah kasih. Namun, kekuatan kasih tidak terutama terletak pada kerasnya kata-kata, melainkan pada kejujuran, keberanian, dan tindakan nyata yang menghidupkan sesama.
“Kasih yang nyaring itu bukan kasih yang berteriak di Facebook. Kasih yang nyaring itu adalah mendengarkan tanpa menghakimi, merangkul tanpa banyak kata, dan memaafkan tanpa tuntutan,” demikian penegasan dalam homili tersebut.
Kasih Harus Membela Mereka yang Lemah
Bertolak dari bacaan Kitab Keluaran 22:21-27, P. Domi menyoroti perintah Allah agar umat tidak menindas orang asing, janda, dan anak yatim. Ketiga kelompok ini menjadi gambaran orang-orang yang rentan karena tidak memiliki kekuatan sosial, ekonomi, maupun perlindungan yang memadai.
Pesan Kitab Suci itu, menurut refleksi homili, tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Orang asing dapat hadir dalam sosok pendatang yang belum menguasai bahasa setempat, pekerja dari daerah lain yang mencari nafkah, atau anggota keluarga yang kembali dari perantauan dalam keadaan sulit.
Sementara itu, janda dan anak yatim mengingatkan umat pada mereka yang harus berjuang menghadapi beban hidup tanpa dukungan keluarga yang memadai.
P. Domi mengajak umat untuk tidak menambah penderitaan mereka melalui stigma, gosip, penghinaan, ataupun perlakuan diskriminatif.
Kasih Kristiani, tegas pesan homili itu, tidak boleh dibatasi oleh hubungan darah, asal daerah, suku, agama, maupun kepentingan pribadi. Kasih yang hanya diberikan kepada orang-orang yang menguntungkan atau memperlakukan kita dengan baik belum mencerminkan kedalaman kasih yang diajarkan Yesus.
Bagi para pejuang JPIC, pesan tersebut menjadi panggilan untuk berdiri bersama mereka yang rentan, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan keberpihakan yang nyata kepada kelompok yang sering diabaikan.
Rajin Berdoa, tetapi Jangan Abaikan Sesama
Merenungkan Injil Matius 22:34-40, P. Domi menegaskan bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan.
Kehidupan rohani yang rajin berdoa, mengikuti misa, dan menjalankan berbagai devosi harus berjalan seiring dengan sikap menghormati keluarga, membantu sesama, serta menjauhi kekerasan dan ketidakjujuran.
Kesalehan di gereja kehilangan maknanya apabila seseorang masih kasar terhadap pasangan, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, memarahi anak dengan kata-kata yang merendahkan, atau menipu tetangga.
Sebaliknya, kepedulian sosial juga perlu berakar pada relasi dengan Allah agar tindakan kasih terus dipelihara sebagai bagian dari iman.
Dalam homili itu, P. Domi mengingatkan bahwa kasih menuntut keberanian untuk menyangkal egoisme, mengampuni, dan bahkan mengasihi orang yang membenci kita.
Kasih bukan sekadar perasaan nyaman terhadap orang lain. Kasih merupakan pilihan sadar untuk menghormati martabat manusia, sekalipun pilihan itu menuntut pengorbanan.
Keluarga Menjadi Tempat Pertama Menghidupi Injil
Melalui bacaan kedua, 1 Tesalonika 1:5c-10, P. Domi mengangkat kesaksian jemaat Tesalonika yang imannya tersiar luas karena mereka tidak berhenti sebagai pendengar Sabda, tetapi menghidupinya dalam keseharian.
Ia mengajak umat menyadari bahwa kesaksian iman tidak hanya berlangsung melalui khotbah atau kegiatan gerejawi. Kehidupan sehari-hari justru menjadi ruang utama tempat orang lain mengenal nilai-nilai Injil.
Keluarga yang dibangun di atas sikap saling menghormati, suami dan istri yang saling menghargai, serta orang tua yang memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih merupakan kesaksian iman yang konkret.
Sebaliknya, kekerasan dalam rumah tangga, perjudian daring, kebiasaan mabuk, dan pertengkaran yang disertai makian menjadi tantangan serius bagi kesaksian hidup umat beriman.
Pesannya jelas: orang lain tidak hanya mendengar apa yang dikatakan seorang Katolik tentang Injil, tetapi juga melihat bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan ruang pertama untuk membangun budaya kasih, perdamaian, penghormatan, dan pengampunan.
Tantangan: Satu Tindakan Kasih Setiap Hari
Menutup homilinya, P. Domi memberikan tantangan praktis agar umat tidak pulang hanya membawa berkat, tetapi juga tekad untuk melakukan perubahan nyata.
Pertama, umat diajak menyediakan waktu sekitar sepuluh menit setiap hari untuk berdiam bersama Tuhan tanpa gangguan telepon genggam, sebagai upaya memperdalam relasi dengan-Nya.
Kedua, umat diminta berani memilih satu orang yang paling sulit dikasihi, kemudian melakukan satu tindakan kasih secara tulus tanpa mencari pujian atau pengakuan.
Tindakan itu dapat berupa membantu, mendoakan, memberikan perhatian, atau melakukan kebaikan sederhana yang dibutuhkan orang tersebut.
Bagi P. Domi, kasih yang sejati tidak membutuhkan panggung. Nilainya tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengetahui perbuatan baik itu, tetapi oleh ketulusan dalam mengasihi.
Seluruh refleksi tersebut bermuara pada pesan bahwa hukum dan perintah Allah menemukan kesatuannya dalam kasih. Dalam Injil Matius, Yesus menegaskan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi bergantung pada dua perintah kasih: mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Bagi umat dan pejuang JPIC, cinta kasih bukan sekadar tema homili, melainkan panggilan untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia melalui tindakan nyata.
Homili P. Domi Kadju Dheo, SVD, disiapkan untuk Minggu Biasa XXX, 25 Oktober 2026, di Soverdi Oebufu, dengan bacaan Kitab Suci Keluaran 22:21-27, 1 Tesalonika 1:5c-10, dan Matius 22:34-40. **

















