banner 728x250

NTT Mart OSOP Diluncurkan di Belu, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena Dorong Ekonomi Lokal Tekan Defisit Perdagangan

banner 120x600
banner 468x60

Belu, 30 Maret 2026 —

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, resmi meluncurkan NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP) di SMK Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu, Senin (30/3/2026).

banner 325x300

Program ini menjadi strategi utama pemerintah provinsi untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus menekan defisit perdagangan daerah yang masih tinggi.

Peluncuran NTT Mart tidak hanya bersifat simbolis, tetapi menjadi langkah konkret dalam menjawab persoalan utama pelaku UMKM dan industri kecil, terutama terkait akses pasar.

“Masalah terbesar UMKM kita bukan produksi, tapi pasar. NTT Mart ini kita siapkan sebagai ruang bersama agar produk lokal punya pasar yang jelas,” tegas Melki.

Ia mengungkapkan, ketimpangan perdagangan NTT masih signifikan, di mana nilai barang yang masuk jauh lebih besar dibandingkan yang keluar, dengan selisih mencapai sekitar Rp51 triliun per tahun.

“Artinya uang kita lebih banyak keluar daripada berputar di dalam daerah. Ini yang harus kita ubah dengan memperkuat produksi dan konsumsi lokal,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov NTT mengembangkan ekosistem ekonomi berbasis tiga pilar, yakni One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).

Melalui pendekatan ini, setiap desa, sekolah, dan komunitas didorong menghasilkan produk unggulan.

“Kalau setiap desa satu produk dan setiap sekolah satu produk, kita akan punya ribuan produk lokal yang bisa menggerakkan ekonomi daerah,” kata Melki.

NTT Mart, lanjutnya, dirancang sebagai pusat distribusi atau “rumah besar” bagi produk lokal, sementara desa, sekolah, dan komunitas menjadi pusat produksi.

“Produk kita kumpulkan, dikemas dengan baik, lalu dipasarkan. Ini bukan sekadar jual beli, tapi membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Melki juga menekankan pentingnya peran Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan yang strategis dalam perdagangan, termasuk peluang pasar lintas negara.

“Belu ini daerah niaga. Kalau ekonomi lokalnya kuat, dampaknya akan sangat besar,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlanjutan pasar, ia mendorong keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) dalam mendukung produk lokal.

“Kalau ASN belanja minimal Rp100 ribu per bulan di NTT Mart, perputaran uang bisa mencapai miliaran dan langsung dirasakan masyarakat,” katanya.

Selain itu, ia menginstruksikan agar produk lokal menjadi pilihan utama, termasuk sebagai oleh-oleh perjalanan dinas.

Gubernur juga menyoroti optimalisasi fasilitas sekolah, khususnya di SMK, agar dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan dalam mendukung kegiatan produksi siswa.

“Setiap jurusan harus punya minimal satu produk unggulan. Ini bagian dari membangun budaya produksi sejak dini,” tegasnya.

Melki mengingatkan bahwa tantangan ekonomi ke depan tidak ringan, termasuk dampak dinamika global dan ancaman kekeringan akibat El Nino yang diperkirakan mulai terjadi dalam waktu dekat.

“Kita harus siap menghadapi kondisi ini dengan memperkuat ekonomi lokal agar masyarakat tetap bertahan,” ujarnya.

Pemerintah optimistis, melalui integrasi produksi dan distribusi berbasis NTT Mart, ketergantungan terhadap produk luar daerah dapat ditekan secara bertahap.

“Kalau kita konsisten, ekonomi NTT akan berdiri di atas kaki sendiri,” pungkas Melki.

Editor : Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!