TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Pulau Penyengat bukan sekadar gugusan tanah di pelupuk mata Tanjungpinang. Di sana, detak jantung bahasa Indonesia bermula. Kini, menjelang satu abad Sumpah Pemuda, sebuah visi besar kembali ditiupkan: Membangun Monumen Bahasa, bukan sekadar tugu, melainkan simbol sakralitas jati diri bangsa.
Staf Khusus Bidang Pemuda Tim Percepatan Pembangunan Kepri, Basyaruddin Idris, S.H., C.P.M., C.P.Arb., yang akrab disapa Tok Oom, menegaskan bahwa pembangunan monumen ini sudah menjadi kebutuhan mendesak.
“Ini bukan sekadar tugu biasa. Ini Monumen Bahasa. Nilainya sangat tinggi karena di sinilah akar bahasa Melayu bertransformasi menjadi bahasa Indonesia,” ujar Tok Oom pada Sabtu 7 Maret 2026.
Magnet Sejarah Menuju 2028
Bagi Tok Oom, angka 1928 adalah keramat. Menjelang tahun 2028, tepat 100 tahun Sumpah Pemuda, Kepulauan Riau (Kepri) harus mengambil peran sentral. Dia melihat Monumen Bahasa sebagai “ruh” yang mampu memotivasi semangat pemuda sekaligus menjadi daya tarik internasional.
Apalagi, sejarah mencatat kebesaran Raja Ali Haji, Sang Bapak Bahasa sekaligus Pahlawan Nasional yang makamnya bersemayam di Pulau Penyengat.
“Kita punya kebanggaan besar. Raja Ali Haji telah mewujudkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Bahkan kini, dunia mengakui itu melalui forum Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang mengusulkan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan di Asia,” lanjut tokoh pelopor berdirinya DMDI di Kepri tahun 2005 tersebut.
Ambisi Kongres Ke-3 dan Kehadiran Presiden
Sejarah mencatat Sumpah Pemuda melalui dua fase penting: Kongres Mei 1926 dan Oktober 1928 di Jakarta. Kini, Tok Oom melontarkan gagasan berani: Mengusulkan Kongres Sumpah Pemuda Ke-3 digelar di Pulau Penyengat pada tahun 2028 mendatang.
Gagasan ini bukan tanpa alasan. Dia berharap perayaan 100 tahun Sumpah Pemuda menjadi momentum nasional di mana Presiden RI memimpin langsung upacara di tanah Melayu.
“Kita harapkan masyarakat Kepri bisa bangga. Jika perlu, Presiden langsung yang pimpin upacara nasional di Pulau Penyengat sekaligus meresmikan Monumen Bahasa tersebut,” tegasnya.
Belajar dari Masa Lalu
Rencana pembangunan Monumen Bahasa sebenarnya bukanlah barang baru. Jejaknya sudah ada sejak era kepemimpinan Ismeth Abdullah dan sempat dianggarkan kembali di masa almarhum Muhammad Sani. Namun sayang, proyek tersebut sempat terhenti karena kendala teknis dan proses hukum.
Kini, dengan semangat “Menuju 100 Tahun”, momentum ini dianggap waktu yang paling tepat untuk menebus kegagalan masa lalu. Kehadiran Universitas Raja Ali Haji (UMRAH) dan pengakuan internasional terhadap bahasa Melayu di konvensyen DMDI (yang menggunakan bahasa Melayu dan Inggris) menjadi bukti kuat bahwa fondasi itu sudah ada.
Kini, bola panas ada pada kemauan politik dan dukungan masyarakat. Jika rencana ini terwujud, Pulau Penyengat tidak hanya akan dikenal sebagai situs sejarah, tapi sebagai mercusuar bahasa yang menyatukan Nusantara dan Asia.
Editor: Budi Adriansyah

















