banner 728x250

Mencari “Habibie Muda” dari Timur: Kisah Prof. Sherly da Costa dan Ironi Talenta Indonesia

Sains dari Perbatasan: Jejak Prof. Sherly da Costa dan Masa Depan Riset Indonesia

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta –

Di Indonesia, nama B. J. Habibie selalu disebut dengan nada hormat. Ia menjadi simbol kecerdasan, tekad, dan kebanggaan nasional—seorang ilmuwan yang membuktikan bahwa anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan ilmuwan dunia.

banner 325x300

Namun ada sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur: apakah Indonesia masih mampu mengenali “Habibie-Habibie baru” di zamannya sendiri?

Pertanyaan itu mengarah pada sosok Apolonia Diana Sherly da Costa, seorang ilmuwan diaspora asal Timur Indonesia yang kini berkiprah di dunia akademik Eropa.

Di kalangan riset internasional, namanya mulai dikenal melalui berbagai publikasi dan kolaborasi ilmiah. Namun di tanah air sendiri, namanya belum banyak diperbincangkan di ruang kebijakan.

Dari Baucau ke Kupang

Sherly lahir di Baucau, sebuah kota di Timor-Leste yang dulu merupakan bagian dari wilayah Timor Timur sebelum kemerdekaan negara tersebut pada 2002.

Perjalanan hidupnya tidak mudah. Ia tumbuh dalam dinamika sosial dan sejarah kawasan perbatasan, lalu besar di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur.

Dari wilayah yang sering disebut sebagai “pinggiran” pembangunan nasional itulah, langkahnya kemudian membawanya menembus dunia akademik internasional.

Karier ilmiahnya berkembang di University of Münster, Jerman, salah satu universitas riset tua dan terkemuka di Eropa. Di sana ia terlibat dalam berbagai proyek penelitian kolaboratif dan aktivitas akademik internasional.

Bagi banyak orang di Indonesia Timur, perjalanan itu bukan sekadar prestasi pribadi. Ia menjadi simbol bahwa keterbatasan geografis tidak selalu membatasi kapasitas intelektual.

Ketika Sains Bertemu Realitas Bencana

Fokus riset Sherly tidak berhenti pada teori akademik. Salah satu kajiannya menyoroti ketahanan masyarakat menghadapi bencana banjir di wilayah Malaka, sebuah kabupaten perbatasan Indonesia dengan Timor-Leste.
Wilayah tersebut hampir setiap tahun menghadapi banjir yang berdampak pada pertanian, infrastruktur, dan kehidupan sosial masyarakat.

Dalam risetnya, Sherly mengembangkan pendekatan resiliensi bencana berbasis komunitas. Metode ini memadukan teknologi seperti Geographic Information System dengan pengetahuan lokal masyarakat.

Alih-alih melihat masyarakat sebagai korban yang pasif, pendekatan ini memandang mereka sebagai aktor utama dalam mitigasi bencana.

Ia mengidentifikasi berbagai aset sosial—mulai dari solidaritas komunitas, struktur adat, hingga kekuatan spiritual masyarakat—yang dapat menjadi fondasi ketahanan jika dipadukan dengan teknologi pemetaan modern.

Pendekatan semacam ini semakin mendapat perhatian dalam dunia kebijakan global, terutama dalam konteks perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana.

Dilema Talenta Diaspora

Kisah Sherly juga menggambarkan fenomena yang dikenal sebagai brain drain—ketika ilmuwan berbakat dari suatu negara justru berkembang di luar negeri.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara berkembang menghadapi tantangan serupa: talenta terbaik sering menemukan ruang yang lebih luas di pusat-pusat riset global.

Namun sejumlah negara mulai mengubah paradigma tersebut menjadi brain circulation—yakni kolaborasi aktif antara ilmuwan diaspora dan negara asal.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk melakukan hal yang sama. Dengan jumlah diaspora ilmuwan yang terus meningkat, negara memiliki peluang membangun jaringan riset global yang kuat.

Momentum bagi Kebijakan Sains

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya kemandirian nasional melalui penguatan sains dan teknologi.
Dalam konteks itu, keterlibatan ilmuwan diaspora dapat menjadi salah satu strategi penting. Bukan sekadar memulangkan mereka secara fisik, tetapi membuka ruang kolaborasi nyata antara peneliti luar negeri dan lembaga riset nasional.

Banyak negara telah berhasil melakukan pendekatan ini. Korea Selatan, India, dan China misalnya, secara aktif melibatkan ilmuwan diaspora dalam proyek strategis nasional.

Indonesia memiliki peluang yang sama—terutama untuk isu-isu strategis seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan mitigasi bencana di wilayah rawan seperti NTT.

Pelajaran dari Timur

Kisah Prof. Sherly da Costa bukan hanya tentang seorang ilmuwan dari Timur yang berhasil menembus dunia internasional.
Lebih dari itu, kisah ini mengingatkan kita bahwa talenta Indonesia tersebar di banyak tempat—baik di dalam negeri maupun di diaspora global.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia memiliki ilmuwan hebat.
Pertanyaannya adalah:
apakah negara mampu mengenali, merangkul, dan memanfaatkan potensi mereka untuk kepentingan bangsa?

Jika sejarah pernah menghadirkan Habibie, masa depan mungkin juga sedang menunggu untuk menemukan generasi ilmuwan berikutnya—mungkin saja dari Timur Indonesia.

Editor : Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!