Kupang –
Di tengah terik yang kian panjang dan hujan yang makin tak menentu, suara perubahan iklim tak lagi sebatas wacana.
Ia sudah hadir di ladang-ladang petani, di laut para nelayan, dan di padang penggembalaan ternak. Kekeringan, krisis air, hingga ancaman gagal panen menjadi kenyataan yang dirasakan langsung masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bagi Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, kondisi ini bukan alasan untuk menunggu. Justru sebaliknya—harus menjadi titik tolak untuk bergerak cepat dan terukur.
Hal itu ia tegaskan saat membuka Workshop dan Peluncuran Produk Virgin Coconut Oil (VCO) yang digelar oleh Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri di Kupang, Jumat (10/4/2026).
“Perubahan iklim, termasuk ancaman El Nino, bukan lagi isu, tetapi sudah berdampak langsung pada masyarakat kita. Karena itu, kita tidak bisa menunggu,” tegas Melki.
Dari Kerentanan ke Pemetaan Berbasis Data
Di hadapan peserta workshop, Melki menekankan pentingnya langkah mitigasi berbasis data. Pemerintah, kata dia, harus mulai dari hal mendasar: memetakan siapa saja masyarakat yang paling rentan, serta wilayah pertanian yang paling terdampak.
Pendekatan ini dinilai penting agar intervensi tidak lagi bersifat umum, tetapi tepat sasaran. Sebab, dampak perubahan iklim di NTT tidak merata—ada daerah yang mengalami krisis air ekstrem, sementara daerah lain masih memiliki potensi yang bisa dioptimalkan.
“TAPA OKE JU”: Mengubah Cara Pandang Petani
Namun bagi Melki, menghadapi perubahan iklim saja tidak cukup. Petani juga harus didorong keluar dari pola lama—menjual hasil mentah tanpa nilai tambah.
Ia menawarkan konsep sederhana namun strategis: “TAPA OKE JU”—Tanam, Panen, Olah, Kemas, dan Jual.
Konsep ini bukan sekadar slogan. Ia adalah upaya mengubah posisi petani dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku usaha yang memiliki kontrol atas rantai nilai.
Peluncuran produk Virgin Coconut Oil (VCO) dalam kegiatan tersebut menjadi contoh nyata. Kelapa yang selama ini dijual mentah kini diolah menjadi produk bernilai tinggi, dengan pasar yang lebih luas dan harga yang lebih menguntungkan.
“Kalau kita hanya jual bahan mentah, kita akan selalu berada di posisi lemah. Tapi kalau kita olah, kemas, dan jual, nilai tambahnya kembali ke masyarakat,” jelasnya.
Kolaborasi Jadi Kunci
Transformasi ini, lanjut Melki, tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kerja bersama antara pemerintah, swasta, perbankan, akademisi, hingga komunitas.
Peran perbankan misalnya, diperkuat melalui akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang tidak hanya memberi pembiayaan tetapi juga pendampingan manajemen usaha.
Tujuannya jelas: memastikan usaha petani tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkelanjutan.
Di sisi lain, pemerintah juga membuka akses pasar melalui program NTT Mart serta mendorong unit usaha berbasis sekolah. Bahkan, aparatur sipil negara (ASN) diajak menjadi bagian dari solusi dengan membeli produk lokal.
Langkah sederhana ini diyakini mampu menggerakkan ekonomi rakyat dalam skala besar.
Dari Lokal untuk Kesejahteraan
Melki juga memberikan apresiasi kepada CIRM dan para pendamping yang telah membantu petani menghasilkan produk VCO berkualitas.
Baginya, ini adalah bukti bahwa produk lokal NTT memiliki daya saing jika dikelola dengan baik.
Di balik semua itu, ada satu tujuan besar yang ingin dicapai: keadilan ekonomi.
Pemerintah Provinsi NTT, kata Melki, berkomitmen memastikan setiap produk petani memiliki pasar, nilai tambah, dan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang tak terhindarkan, harapan itu kini tumbuh dari sesuatu yang sederhana—kelapa yang diolah, dikemas, dan dijual dengan nilai baru. Sebuah langkah kecil, namun bermakna besar bagi masa depan ekonomi rakyat NTT.
Editor : Boni Atolan

















