Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Sebuah keluhan sederhana namun menusuk di grup Facebook InfoPinang menjadi cerminan frustrasi warga Kota Tanjungpinang. Rabu, 18 Februari 2026 dini hari, saat umat Muslim hendak bersahur, aliran air di keran mereka justru mengering.
“Memang PDAM mantap, orang mau sahur malah air nggak ngalir, padahal hari hujan… Luar biasa laaaa PDAM Tanjung Pinang ini,” tulis Matheos Izack, Rabu pagi.
Komentar itu langsung mendapatkan respons dari puluhan warga lain yang merasakan nasib serupa. Bukan sekadar curahan hati, unggahan itu membuka kotak Pandora soal masalah klasik yang hampir rutin terjadi setiap tahun di ibu kota Kepulauan Riau ini: gangguan pasokan air bersih di momentum penting.
Dari Listrik ke Air: Masalah yang Berpindah Tangan
Izack tak sendirian. Rudi Riyanto menambahkan kritik pedas soal janji-janji manis pembangunan infrastruktur yang tak kunjung terealisasi.
“Dari dulu wacana terus nak nambah pembuatan dam atau kolam penampungan air bersih, tapi tak pernah dilakukan. Itulah akibat punya pemimpin banyak janji borak,” ujarnya.
TrEsilia ViiOleta Md Isa bahkan menyebut fenomena ini sebagai “makanan tahunan” warga Tanjungpinang.
“Kalau nggak mati listrik ya mati air. Hampir terjadi setiap tahun, tapi tidak ada upaya perbaikan maupun tindakan preventif dari pengelola terkait. Kayaknya mereka tahu betul kalau masyarakat Tanjungpinang ini orangnya sabar-sabar,” keluhnya.
Ironisnya, masalah ini bukan murni kesalahan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri semata. Beberapa jam sebelum keluhan bermunculan, pengelola air bersih tersebut telah mengirimkan pemberitahuan resmi.
PLN Matikan Listrik, PDAM Ikut “Mati”
Dalam keterangan resmi yang beredar di medsos, PDAM Tirta Kepri menjelaskan bahwa pompa distribusi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Pulai tidak dapat beroperasi akibat pemadaman listrik yang dilakukan PT PLN (Persero) ULP Bintan Center.
Pemadaman berlangsung pada Rabu 18 Februari 2026 pukul 20.10 WIB hingga pukul 01.10 WIB dini hari, tepat di saat warga membutuhkan air untuk persiapan sahur. Wilayah terdampak meliputi puluhan ruas jalan di pusat kota, termasuk Jalan Merdeka, Jalan Sudirman, Jalan Diponegoro, hingga perumahan-perumahan di Sei Jang dan sekitarnya.
“Atas nama manajemen Perumda Air Minum Tirta Kepri mengucapkan permohonan maaf atas terganggunya pelayanan distribusi air kepada pelanggan,” demikian bunyi permintaan maaf tersebut.
Namun permintaan maaf itu tak serta-merta meredam kekesalan. Hoki Jack menuntut pertanggungjawaban lebih serius.
“Pemimpin kalau tidak ada kebijakan dan kemampuan, diganti saja pak. Sebaiknya Bapak Ibu mundur dari jabatan, PDAM banyak yang orang mau,” tulisnya tegas.
Sementara itu, Syam Don S Syam melaporkan ketimpangan pelayanan.
“Di uban tidak hidup juga di dekat saya. Yang lain hidup, tidak ada info tentang air PAM,” katanya, mengindikasikan tidak semua wilayah mendapatkan informasi yang merata.
Antara Janji dan Kenyataan
Masalah ini sebenarnya bukan baru. Setiap musim puasa atau momen spesifik lainnya, keluhan serupa kerap muncul: listrik padam mengakibatkan pasokan air terganggu. Namun yang menjadi pertanyaan warga: mengapa solusi preventif tak pernah terealisasi?
Wacana pembangunan dam atau kolam penampungan cadangan air bersih memang sudah lama bergaung. Namun seperti disinggung Rudi Riyanto, janji tersebut hingga kini sekadar wacana. Di saat yang sama, koordinasi antara PLN dan PDAM dalam menjadwal pemadaman listrik, terutama di saat-saat krusial seperti sahur, tampaknya masih lemah.
Frustrasi warganet di medsos bukan sekadar keluhan individual. Itu adalah sinyal alarm bahwa infrastruktur dasar di Tanjungpinang masih rapuh, dan ketahanan pelayanan publiknya belum mampu menjamin kenyamanan warga di momen-momen penting.
Pertanyaannya kini: sampai kapan warga harus “puasa air” setiap tahun?
Editor: Budi Adriansyah

















