Malaka, NTT – 1 Desember 2025
Model crop-livestock system (CLS) atau integrasi ternak-tanaman yang berhasil diterapkan di Jawa untuk menekan biaya pakan belum mampu diadaptasi di NTT, termasuk di Kabupaten Malaka. Plh. Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Malaka, Metilde Seran, memaparkan bahwa terdapat dua hambatan utama: terbatasnya limbah pertanian dan pola pemeliharaan ternak yang masih ekstensif.
“Integrasi ternak-tanaman itu membutuhkan limbah pertanian yang cukup. Di Malaka, petani tanam sekali setahun. Limbahnya sedikit dan tidak cukup untuk pakan intensif,” kata Metilde.
Selain itu, masyarakat di Malaka masih dominan memelihara sapi secara ekstensif, yaitu digembalakan di padang rumput luas. Sistem ini tidak sejalan dengan model intensif integrasi yang membutuhkan kandang permanen dan pakan terukur.
Padahal, CLS di Jawa terbukti mampu meningkatkan produktivitas ternak sekaligus menjaga kesuburan tanah. Namun, di Malaka, kondisi ekologis berbeda. Meski Malaka dan NTT memiliki padang penggembalaan luas, kualitasnya masih rendah dan memerlukan rehabilitasi.
Metilde menegaskan bahwa pengembangan kawasan pembibitan berbasis padang penggembalaan tetap menjadi opsi yang cocok untuk Malaka, namun harus disertai peningkatan kualitas hijauan melalui pemanfaatan leguminosa, pengendalian gulma, dan pemupukan alami.
Editor : Boni Atolan

















