banner 728x250

Kualitas MBG di Citorek Barat Dipertanyakan: Wali Murid Minta Instansi Terkait Lakukan Sidak Langsung

banner 120x600
banner 468x60

Lebak 28 May 2026

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, justru menuai keluhan keras dari para wali murid di Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Sejumlah orang tua mengaku sangat kecewa dengan kualitas makanan yang disajikan kepada putra-putri mereka di sekolah.

banner 325x300

Meski mendukung penuh kebijakan pemerintah ini, para wali murid menilai pelaksanaannya di wilayah mereka jauh dari harapan. Berbagai masalah menjadi sorotan utama, mulai dari menu yang tidak sesuai jadwal, kualitas masakan yang diragukan kesegarannya—bahkan diduga sudah basi—serta dugaan nilai makanan per porsi yang diperkirakan tidak mencapai Rp10.000, jauh di bawah standar yang seharusnya berlaku.

Salah satu perwakilan wali murid mengungkapkan, masyarakat sebenarnya sangat mendukung program ini karena tujuannya mulia demi kesehatan dan kecerdasan anak. Namun, fakta di lapangan justru memicu kekhawatiran besar akan dampaknya bagi kesehatan dan pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan anak-anak.

“Programnya bagus, kami sangat mendukung. Tapi kenyataannya, makanan yang dibagikan sering kali tidak sesuai dengan jadwal menu yang ditetapkan. Tak hanya itu, ada masakan yang dicurigai sudah basi dan tidak layak makan. Kalau dilihat dari porsi dan isinya, kami perkirakan nilainya pun tidak sampai Rp10.000 per porsi,” ujarnya.

Kekecewaan warga semakin terlihat jelas ketika ada pihak yang menanyakan langsung tingkat kepuasan mereka terhadap pelaksanaan program ini. Secara serentak dan kompak, para ibu wali murid menyatakan ketidakpuasan mereka.

“Suka tidak dengan pelaksanaan MBG di sini?” tanya salah satu pihak yang meninjau lokasi.

“Tidak suka!” jawab para wali murid serempak.

Para orang tua mengaku sangat berharap standar pelayanan di daerah mereka bisa disamakan dengan wilayah lain yang dinilai jauh lebih baik, layak, dan berkualitas.

“Kami ingin pelayanannya seperti di daerah sebelah, makanannya enak, segar, dan bagus-bagus. Kami juga berhak dapat yang sama,” ungkap salah satu ibu dengan nada penuh harap.

Selain soal kualitas dan kesesuaian menu, para orang tua juga menyoroti dugaan adanya penurunan kualitas bahan baku demi meraup keuntungan pribadi. Mereka memohon agar pihak pengelola tidak menjadikan program bantuan pemerintah ini sebagai ladang bisnis, apalagi hingga mengorbankan hak dan kesehatan anak-anak sekolah.

“Jangan sampai anak-anak kami menjadi korban demi keuntungan pihak tertentu. Tolong utamakan kualitas, kebersihan, dan kesehatan mereka. Ini hak anak-anak kami,” tegas salah satu wali murid.

Sementara itu, ketika awak media berupaya meminta konfirmasi kepada pihak pengelola MBG Desa Citorek Barat melalui pesan WhatsApp, hingga berita ini diturunkan tidak ada jawaban atau tanggapan yang diberikan. Pihak pengelola diketahui bungkam dan tidak merespons pertanyaan yang disampaikan terkait berbagai dugaan dan keluhan yang muncul di masyarakat.

Merespons kondisi yang memprihatinkan ini, masyarakat secara tegas meminta instansi terkait—mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga tim pengawas pusat program MBG—segera turun langsung melakukan Inspeksi Mendadak (SIDAK) ke lokasi. Pemeriksaan diminta dilakukan secara menyeluruh dan rinci, mulai dari pengecekan bahan baku, kesesuaian menu, perhitungan anggaran per porsi, hingga standar kebersihan dan kelayakan makanan yang dibagikan setiap hari kepada siswa.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari instansi berwenang terkait keluhan tersebut. Warga berharap evaluasi dan perbaikan segera dilakukan agar tujuan mulia program MBG benar-benar terwujud dan dirasakan manfaatnya oleh generasi muda di wilayah mereka.

HKZ/Api

banner 325x300
error: Content is protected !!