banner 728x250

KETIKA ADAT MENJADI KOSTUM* _Marwah Lembaga Adat di Ujung Tanduk Obral Gelar_ Oleh: *Yohanes Tafaib*

banner 120x600
banner 468x60

 

*Bisikan yang Retak*

banner 325x300

Di serambi rumah adat, angin dulu bertiup pelan.
Ia membawa cerita tentang sumpah.
Tentang sirih pinang yang diikat di atas batu.
Tentang usif yang dipilih bukan karena suara terbanyak,
tetapi karena darah, laku, dan restu arwah.

Hari ini angin itu berubah.
Ia membawa suara lain.
Suara obral.
Suara bagi-bagi mahkota di atas meja politik.

*Marwah yang Digadaikan*

Marwah lembaga adat kini terancam.
Bukan oleh modernitas.
Bukan oleh anak muda yang lupa.
Tetapi oleh maraknya obral gelar kepada elite politik.

Pranata yang sakral, yang dulu dijaga dengan pantang dan puasa,
pelan-pelan diubah fungsinya.
Dari penjaga nilai, menjadi alat legitimasi kekuasaan yang pragmatis.

Adat dipanggil saat butuh panggung.
Gelar diberikan saat butuh dukungan.
Tifa ditabuh saat butuh sorotan kamera.
Setelah itu?
Dibiarkan kembali sunyi. Tanpa fungsi. Tanpa jiwa.

*Kostum Tanpa Jiwa*

Apa jadinya adat jika hanya jadi kostum?
Indah dilihat.
Tetapi kosong di dalam.
Tidak menghangatkan.
Tidak melindungi.

Ketika adat menjadi kostum panggung tanpa jiwa,
ia kehilangan hal paling penting: *fungsi kontrol sosialnya.*

Dulu tetua adat berani berkata “tidak” kepada penguasa yang zalim.
Dulu lembaga adat jadi penyeimbang.
Jadi rem.
Jadi cermin bagi kekuasaan.

Sekarang?
Banyak yang memilih diam.
Karena takut kehilangan proyek.
Karena takut mahkotanya ditarik kembali.
Karena adat sudah dibayar lunas di awal.

*Batasan Adalah Kewajiban*

Karena itu, kita perlu batasan yang tegas.
Batasan yang lahir dari dalam rumah adat sendiri.
Bukan dari luar.

Batasan pertama: *Gelar bukan hadiah politik.*
Ia amanah. Ia darah. Ia tanggung jawab kepada tanah.

Batasan kedua: *Penobatan bukan proyek.*
Ia harus melalui proses. Musyawarah tetua. Doa leluhur.
Bukan hasil rapat tim sukses.

Batasan ketiga: *Lembaga adat harus merdeka.*
Tidak boleh menjadi sayap partai.
Tidak boleh menjadi tim pemenangan.
Jika tidak, siapa yang akan menegur saat penguasa salah?

*Wariskan Jiwa, Bukan Topeng*

Anak cucuku…
Jika kelak kalian melihat orang memakai pakaian adat,
jangan hanya lihat songket dan ikat kepalanya.
Tanyakan: “Di mana jiwanya?”

Jangan biarkan Timor mewarisi topeng.
Wariskan jiwa.
Wariskan keberanian tetua untuk berkata benar.
Wariskan marwah bahwa adat bukan untuk dijual.

Karena jika adat mati,
yang mati bukan hanya tarian dan upacara.
Yang mati adalah nurani sebuah bangsa.

Dan bangsa tanpa nurani,
hanya akan jadi penonton di tanahnya sendiri.

*Teras Batin Oebufu*
*1 Agustus 2026*

banner 325x300
error: Content is protected !!