banner 728x250

Keluhan Pasien Jantung di RSUD Kepri: Obat Menipis, Dompet Terkikis

Janji Manis Pelayanan Kesehatan Terbentur Realitas Stok Apotek; Pasien Terpaksa Tebus Obat di Luar dengan Harga Tiga Kali Lipat

banner 120x600
banner 468x60

TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Sebuah ironi kesehatan kembali menyeruak dari lorong-lorong RSUD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Tanjungpinang. Selasa, 7 April 2026, suasana ruang tunggu yang biasanya tenang mendadak riuh oleh keluhan pasien rawat jalan, khususnya mereka yang bergantung pada obat jantung.

Persoalannya klasik namun fatal: Stok obat di apotek rumah sakit menipis.

banner 325x300

Para pasien yang rutin mengonsumsi Atorvastatin 20 mg dan Clopidogrel, dua jenis obat vital bagi penderita jantung, harus menelan pil pahit. Alih-alih mendapatkan jatah obat untuk satu bulan penuh dari instalasi farmasi rumah sakit, mereka justru diminta membeli di apotek luar.

Selisih Harga yang Mencekik

Bagi masyarakat mampu, menebus obat di luar mungkin hanya soal waktu. Namun bagi warga dengan ekonomi pas-pasan, ini adalah beban berat. Berdasarkan laporan warga di grup kemitraan IWO Tanjungpinang, terdapat perbedaan harga yang sangat mencolok antara apotek RSUD dengan apotek swasta.

“Kalau beli di RSUP, biayanya sekitar Rp73 ribu. Tapi tadi saya harus menebus di luar, harganya melonjak jadi Rp230 ribu,” ujar salah satu pasien yang enggan disebutkan namanya.

Selisih hampir Rp160 ribu itu setara dengan kebutuhan pokok harian bagi banyak keluarga di Tanjungpinang. Padahal, pasien jantung wajib mengonsumsi obat ini secara rutin, terkadang hingga dua tablet sehari (untuk Atorvastatin), yang berarti mereka membutuhkan 60 tablet dalam sebulan.

Antara Kebijakan dan Realitas

Selama ini, RSUD Provinsi biasanya memberikan jatah 7 tablet awal, dan sisanya bisa dibeli pasien di apotek rumah sakit dengan harga subsidi atau harga yang jauh lebih murah dibanding pasaran. Namun, dengan alasan stok menipis, skema ini mendadak macet.

Kondisi ini seolah kontradiktif dengan narasi pelayanan kesehatan prima yang kerap didengungkan oleh Pemerintah Provinsi. Masyarakat mulai mempertanyakan kesenjangan antara pernyataan Gubernur di media dengan realitas yang mereka hadapi di meja apotek.

“Apa yang disampaikan Gubernur berbeda dengan kenyataan di lapangan. Kami mohon pihak berwenang segera mengevaluasi ini. Kasihan masyarakat yang tidak mampu,” lanjut sumber tersebut.

Butuh Solusi Cepat

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap pihak manajemen RSUD Provinsi maupun Dinas Kesehatan Kepulauan Riau segera turun tangan. Kelangkaan stok obat kronis seperti obat jantung bukan sekadar masalah administratif, melainkan menyangkut nyawa dan keberlangsungan hidup warga.

Jangan sampai jargon “Kepri Sehat” hanya menjadi manis di telinga, namun pahit saat harus menebus resep.

Editor: Budi Adriansyah

banner 325x300
error: Content is protected !!