banner 728x250

Gubernur Melki dan Uskup Agung Kupang Tekankan Perlindungan Perempuan dan Anak pada Seminar WKRI

banner 120x600
banner 468x60

 

Kupang, 7 Maret 2026 –

banner 325x300

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak sebagai bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Seminar Sehari yang diselenggarakan oleh Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Dewan Pimpinan Daerah NTT dalam rangka menyongsong HUT ke-75 organisasi tersebut.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Sahid T-More pada Sabtu (7/3/2026) itu juga menghadirkan Uskup Agung Kupang, Hironimus Pakaenoni serta Gabriel Lema sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena mengatakan bahwa selama 75 tahun kehadirannya, WKRI telah menunjukkan komitmen kuat untuk hadir di tengah masyarakat serta memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan martabat manusia.

“Di hampir semua organisasi keagamaan di Indonesia, biasanya yang paling rapi sampai ke tingkat bawah adalah organisasi perempuan. Salah satunya adalah WKRI,” ujarnya.

Menurutnya, organisasi perempuan memiliki peran penting dalam membangun solidaritas sosial dan memperkuat nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.

Gubernur Melki juga menyoroti masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data lembaga pemasyarakatan, sekitar 75 persen narapidana di NTT menjalani hukuman karena kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Di balik setiap angka itu ada korban yang kehilangan rasa aman, martabat, bahkan masa depan. Karena itu persoalan kekerasan tidak hanya dilihat sebagai masalah hukum, tetapi juga masalah moral, sosial, dan budaya,” tegasnya.

Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT terus memperkuat berbagai kebijakan perlindungan perempuan dan anak sebagai bagian dari agenda pembangunan daerah. Dalam program Dasa Cita, perempuan menjadi salah satu fokus utama pembangunan di NTT.

“Perempuan adalah motor penggerak pembangunan. Karena itu kita terus memperkuat sistem perlindungan dan pemberdayaan perempuan, anak, dan kelompok rentan di NTT,” kata Melki.

Sementara itu, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak merupakan bagian dari panggilan iman sekaligus tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Menurutnya, nilai-nilai iman harus mendorong umat untuk menghormati martabat manusia dan menolak segala bentuk kekerasan maupun diskriminasi.
Ia juga mengajak organisasi perempuan, termasuk WKRI, untuk terus menjadi kekuatan moral dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga martabat perempuan dan anak.

Seminar yang mengusung tema “Wawasan Kebangsaan dalam Upaya Perlindungan terhadap Berbagai Tindakan Kekerasan pada Masyarakat” tersebut diharapkan dapat melahirkan pemikiran konstruktif serta rekomendasi strategis bagi pemerintah, organisasi masyarakat, dan berbagai pihak dalam memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap kelompok rentan di NTT.

Penulis: Oan Wutun
Foto: Nuel Herewele

Editor: Boni Atolan

 

banner 325x300
error: Content is protected !!