Kupang, NTT –
Open Tournament Piala Karate Umum FORKI Nusa Tenggara Timur (NTT) pertama kali digelar di Kota Kupang selama tiga hari berturut-turut, dari tanggal 10 hingga 12 Oktober. Turnamen bergengsi ini resmi dibuka oleh Ketua Umum FORKI NTT, Bapak Ir. Abraham Paul Liyanto, bersama sembilan pengurus provinsi (pengprov) dan Ketua KONI NTT.
Dengan total 800 peserta dan 595 atlet dari 19 kontingen seluruh NTT, turnamen ini menjadi ajang pembinaan kualitas atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, yang akan digelar di NTT sebagai tuan rumah.
Di tengah persaingan sengit, sosok Frans Sally SE, pemilik Sally Karate Club (SKC) Atambua, muncul sebagai figur inspiratif. Ia membawa 10 atlet binaannya, dan semua berhasil meraih medali: 1 emas, 3 perak, dan 6 perunggu. Keberhasilan ini membuktikan kemampuan luar biasa Frans Sally dalam membina atlet-atlet muda dengan disiplin dan strategi jitu.
Frans Sally, SE menyatakan, “Medali yang kami raih bukan untuk membuat kami cepat berpuas diri, melainkan sebagai modal motivasi agar terus berjuang lebih baik lagi, hingga mampu berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Ini juga untuk mengharumkan nama daerah dan Indonesia secara keseluruhan.”
Turnamen ini dimenangkan oleh Pengprov KKI NTT sebagai juara umum dengan raihan 10 emas, 12 perak, dan 13 perunggu. Posisi kedua ditempati Kupang Mandiri Karate Club dan peringkat ketiga oleh INKAI Belu.
Selain menjadi pelatih berprestasi, Frans Sally juga merupakan pemegang sabuk hitam Dan Enam karate, Wakil Ketua Satu FORKI Kabupaten Belu, serta Ketua Majelis Sabuk Hitam Akademi Seni Bela Diri Karate Indonesia (ASKI) Kabupaten Belu.
Dalam wawancara bersama Nestor Bria, Kepala Perwakilan Wartawan Radar Perbatasan Provinsi Bali, Frans Sally menekankan pentingnya keikutsertaan anak-anak dalam turnamen ini untuk memupuk mental juara dan meningkatkan kualitas latihan.
Penulis/Editor : Nestor Bria

















