Malaka – 14 Desember 2025
Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka mengidentifikasi potensi pengembangan dua dari empat situs budaya terkenal di Kecamatan Wewiku menjadi destinasi wisata. Kedua situs tersebut adalah Sumber Mata Air Nono Au dan Komu, yang dikenal sebagai sarang buaya.
Keempat situs—Nono Au, Komu, Hali Ahuk, dan Kanokar Liurai—dipercaya oleh leluhur Kenaikan Rabasahain sebagai tempat keramat dan bersejarah sejak awal peradaban di Malaka. Situs-situs ini terletak di dalam hutan adat Alkani, yang merupakan simbol kemakmuran dan kesuburan tanah Malaka.
Sumber Mata Air Nono Au disebutkan telah dikunjungi tim dan berpotensi ditata menjadi lokasi wisata alam. Sementara itu, Komu, yang secara turun-temurun dikenal sebagai habitat ribuan buaya, masih memerlukan kajian lebih mendalam terkait regulasi dan kelayakannya sebagai tujuan wisata.
“Kami sudah melakukan survei awal dan memang benar tempat-tempat yang disebutkan bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata. Saat ini kami masih melakukan survei untuk menggali lebih jauh potensi pariwisata di Kecamatan Wewiku,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Malaka, Aloysius Werang, ketika dikonfirmasi.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, buaya-buaya di Komu dianggap sebagai penunggu laut dan hutan sekitar Wewiku, serta memiliki nilai magis. Pawang buaya setempat menyebut, buaya-buaya tersebut tidak mengganggu orang yang tidak bersalah, tetapi akan memberikan ‘pelajaran’ kepada yang melanggar pantangan.
Lokasi di sekitar Komu juga memiliki daya tarik pendukung, seperti hutan Cemara dan Pantai Taberek yang sudah terkenal. Pantai Taberek beserta hutan Cemaranya bahkan telah kerap digunakan pemerintah untuk acara-acara resmi, dan tinggal memerlukan penataan lebih lanjut untuk layak menjadi destinasi wisata alam.
Dengan demikian, pengembangan wisata di Wewiku diharapkan dapat menggabungkan kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang dimiliki wilayah tersebut.
Editor: Boni Atolan

















