Surabaya –
Sorak-sorai penonton belum juga reda saat panggung kecil di sisi barat tribun utama Stadion Gelora 10 November, Surabaya bergema. Di tengah riuhnya pertandingan final Piala Presiden U-15, seorang penyanyi muda naik ke atas panggung. Dengan senyum tulus khas anak muda Surabaya, Denny, memulai aksinya. Lagu-lagu semangat yang ia nyanyikan bukan sekadar hiburan; ia menjadi bagian dari atmosfer pertandingan, menjadi nyawa tambahan yang menyulut semangat penonton, pemain, dan bahkan para ofisial.
Bukan kali pertama Denny tampil di ajang ini. Penyanyi muda berbakat asal Kota Surabaya ini menjadi langganan pengisi hiburan di berbagai pertandingan Piala Presiden, khususnya yang digelar di Jawa Timur. Tapi bagi Denny, penampilan kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang menyentuh hatinya lebih dalam: perjuangan anak-anak dari ujung Selatan Pulau Timor Indonesia — PS Malaka U-15 dari Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Saya biasanya datang dan tampil untuk menghibur, tapi kali ini saya seperti ikut terlibat secara emosional,” ucap Denny usai tampil di final yang digelar Kamis (2/10/2025). “Melihat bagaimana anak-anak Malaka bermain, semangat mereka, daya juangnya… jujur, saya merinding. Mereka bukan hanya bertanding, mereka berjuang dengan sepenuh jiwa.”
Sebagai seorang musisi yang lahir dan besar di Surabaya, Denny tumbuh bersama atmosfer sepak bola kota ini. Ia terbiasa melihat semangat Bonek, euforia pertandingan Persebaya, dan dinamika olahraga di kota metropolitan. Namun ia mengaku, baru kali ini melihat tim dari daerah kecil seperti Malaka bisa menggetarkan hati begitu banyak orang — termasuk dirinya.
Menurut Denny, yang paling membekas bukan hanya penampilan PS Malaka di lapangan, tetapi kebersamaan dan kekompakan mereka. “Saya lihat mereka datang bersama bupati dan wakil bupati, ada orang tua mereka, ada guru-gurunya, pelatih, semua mendampingi. Ini bukan sekadar tim sepak bola, ini gerakan bersama, ini kekuatan moral,” katanya, penuh kagum.
Bagi Denny, momen ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan milik kota besar saja. Bahwa di daerah terpencil pun, ada semangat yang membara, ada mimpi yang ingin diwujudkan, dan ada potensi luar biasa yang layak diperjuangkan. “Saya merasa terhormat bisa menyumbang suara untuk acara ini. Tapi suara saya kecil dibanding suara besar yang disuarakan anak-anak Malaka lewat semangat mereka,” ungkapnya.
Di tengah kesibukannya sebagai musisi muda yang mulai menanjak, Denny mengaku selalu siap terlibat dalam kegiatan yang menggabungkan olahraga, seni, dan semangat anak muda. Ia melihat Piala Presiden bukan hanya sebagai turnamen, tetapi sebagai panggung nasional untuk menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia, dari mana pun asalnya, berhak mendapat tempat yang setara dalam dunia olahraga dan seni.
“Saya berharap ini bukan akhir, tapi awal dari gerakan yang lebih besar. Semoga makin banyak daerah yang mengikuti jejak Malaka. Pemerintah provinsi lain, kabupaten/kota lain, harus berani memberi ruang dan mendukung anak-anak muda seperti ini. Mereka hanya butuh sedikit panggung, dan kita semua akan terkejut dengan apa yang bisa mereka lakukan,” tambahnya.
Bagi Denny, penampilan di final Piala Presiden 2025 akan selalu menjadi kenangan emosional. Ia tampil bukan hanya untuk menyanyikan lagu, tapi untuk mengiringi lahirnya harapan baru dari Selatan;Pulau Timor Indonesia. Dan seperti lirik lagu yang ia nyanyikan sore itu, ia percaya bahwa mimpi-mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana, selama ada semangat dan kebersamaan yang tulus mengiringinya.
“Terima kasih PS Malaka. Kalian bukan cuma main bola, kalian menunjukkan bahwa semangat dan kebersamaan bisa mengalahkan keterbatasan. Kalian sudah menang di hati kami semua.”, tutup Denny.
Editor : Boni Atolan

















