DENPASAR – Sabtu pagi yang cerah di Gedung Siwa Plaza, Denpasar, tampak puluhan warga mulai memadati area kegiatan donor darah rutin Senam AW Siwa Bali Club. Suasana ramai namun tertib. Dari antara ratusan peserta yang hadir, dua sosok perempuan tampak menonjol dalam kesederhanaannya: Ibu Eda dan Ibu Ani, dua warga Kota Denpasar yang sudah 17 kali mengikuti kegiatan donor darah ini tanpa pernah absen — dengan semangat yang tak pernah surut.
Usia mereka sudah tidak muda lagi. Namun semangat kemanusiaan yang menyala di dalam diri keduanya justru makin kuat seiring waktu. Bagi Ibu Eda dan Ibu Ani, donor darah bukan sekadar rutinitas tiga bulanan, tapi sebuah panggilan hati untuk menolong sesama.
“Selagi Darah Ini Masih Mengalir, Biarlah Jadi Berkah Bagi Orang Lain”
“Selagi saya masih hidup, sebisa mungkin darah saya yang mengalir ini bisa berguna untuk orang lain,” ungkap Ibu Ani dengan mata berkaca-kaca saat ditemui usai mendonorkan darahnya untuk ke-17 kali.
Baginya, kegiatan donor darah adalah bentuk kepedulian paling nyata dan sederhana yang bisa dilakukan siapa pun. Ia tidak pernah tahu siapa yang akan menerima darahnya — mungkin seorang anak yang kecelakaan, ibu yang sedang melahirkan, atau pasien anemia yang membutuhkan transfusi segera. Tapi justru itu yang membuatnya merasa lebih ikhlas.
“Yang penting saya tahu, saya sudah berusaha menjadi bagian dari penyelamat nyawa orang lain. Tanpa perlu tahu siapa mereka,” lanjutnya sambil tersenyum.
Donor Darah, Jalan Hidup yang Sehat dan Penuh Makna
Senada dengan itu, Ibu Eda mengaku bahwa niat awalnya mendonor darah adalah untuk alasan kesehatan. Namun seiring waktu, niat itu berkembang menjadi misi sosial pribadi.
“Dulu saya ikut donor karena katanya bagus buat tubuh, bisa memperlancar peredaran darah dan bikin jantung lebih sehat. Tapi setelah sering ikut, saya mulai sadar, ada manfaat yang lebih besar — yaitu menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Ibu Eda dan Ibu Ani adalah contoh nyata bahwa menjadi pendonor darah tidak memerlukan gelar atau pangkat, hanya hati yang peduli dan tubuh yang bersedia. Mereka bahkan menjadikan kegiatan donor darah ini sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Keduanya rutin mengikuti Senam AW setiap minggu, menjaga pola makan, dan istirahat cukup agar selalu memenuhi syarat sebagai pendonor.
Tertib, Teratur, dan Tulusan
Setiap tiga bulan sekali, keduanya sudah menandai tanggal kegiatan donor darah di kalender. Mereka datang tidak pernah terlambat, bahkan sering kali menjadi peserta yang paling awal hadir. Begitu masuk lokasi, mereka langsung menuju meja pendaftaran, lalu mengikuti prosedur pemeriksaan kelayakan donor oleh petugas Palang Merah Indonesia (PMI). Bila dinyatakan layak, mereka dengan sukarela duduk di kursi donor dan memberikan sebagian darahnya — tanpa pamrih.
Yang membuat kegiatan ini istimewa adalah suasana kekeluargaan yang tercipta. Para peserta sudah saling mengenal. “Kami ini seperti komunitas kecil yang punya misi besar. Kami tahu donor darah ini membantu banyak orang. Dan itu membuat kami merasa bahagia,” tutur Ibu Ani.
Mendorong Masyarakat Lain untuk Ikut Berkontribusi
Kedua ibu ini juga aktif mengajak teman-teman mereka untuk ikut serta. Mereka tidak segan bercerita tentang manfaat donor darah, baik dari sisi medis maupun emosional.
“Donor itu tidak sakit, tidak menakutkan. Malah setelah itu kita merasa lebih ringan, lebih sehat, dan yang pasti, lebih bahagia karena tahu kita baru saja membantu orang lain,” kata Ibu Eda sambil tersenyum.
Bagi mereka, kebahagiaan bukan dari apa yang kita terima, tetapi dari apa yang bisa kita berikan — bahkan hanya setetes darah pun bisa berarti nyawa bagi orang lain.
Semangat yang Menular di Setiap Kegiatan
Kisah inspiratif Ibu Eda dan Ibu Ani menjadi salah satu alasan mengapa kegiatan donor darah rutin ini terus berjalan dengan antusiasme tinggi. Pada penyelenggaraan tanggal 18 Oktober 2025 lalu, tercatat sebanyak 103 peserta mendaftar, dan berhasil mengumpulkan 84 kantong darah. Jumlah ini bukan hanya angka — melainkan 84 harapan hidup yang mungkin bisa diselamatkan berkat tangan-tangan para pendonor sukarela seperti mereka.
Mereka adalah bukti nyata bahwa kepedulian tidak mengenal usia, status, ataupun batasan. Semangat mereka adalah api kecil yang menyala di tengah masyarakat — menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut bergerak, berbagi, dan peduli.
Penutup: Mari Jadi Pahlawan, Meski Tanpa Nama
Melalui cerita Ibu Eda dan Ibu Ani, kita diingatkan bahwa setiap orang bisa menjadi pahlawan. Tidak perlu pangkat, tidak perlu selebritas. Cukup dengan datang ke tempat donor darah, memenuhi syarat, dan memberi setetes darah dengan ikhlas — itu sudah lebih dari cukup untuk menyelamatkan satu nyawa.
Karena pada akhirnya, darah yang mengalir dari tubuh kita bisa menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Dan tak ada yang lebih mulia dari itu.
Penulis/Editor: Nestor Bria

















