BINTAN, Radar Perbatasan.com – Ruang tahanan yang biasanya identik dengan kekakuan dan jeruji besi, mendadak berubah suasananya pada Senin petang, 2 Maret 2026. Ada kehangatan yang merambat, ada aroma persaudaraan yang menyeruak di antara aroma takjil yang tersaji.
Di momen sakral Ramadan ini, Kapolres Bintan AKBP Argya Satrya Bhawana, memilih cara yang berbeda untuk mengisi waktunya. Alih-alih berbuka di restoran mewah atau bersama keluarga di rumah, dia justru melangkah masuk ke dalam sel. Duduk bersimpuh, dia membaur bersama para tahanan untuk berbuka puasa bersama.
Tak sendirian, dia didampingi Wakapolres Kompol Eri Sujati dan jajaran Pejabat Utama (PJU). Pemandangan ini seolah meruntuhkan sekat antara penegak hukum dan mereka yang sedang berurusan dengan hukum.
Ramadan Sebagai Cermin Diri
Bagi AKBP Argya, tugas kepolisian tidak melulu soal borgol dan berkas perkara. Ada sisi pembinaan kemanusiaan yang menurutnya jauh lebih penting untuk masa depan para tahanan.
“Momentum Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar,” ujar AKBP Argya dengan nada suara yang lembut namun bertenaga. Pandangannya menyapu wajah-wajah di depannya, wajah yang mungkin sedang dirundung sesal atau rindu keluarga.
Dia melanjutkan, “Ini adalah waktu untuk merenungi kesalahan dan memperkuat niat menjadi pribadi yang lebih baik. Masa tahanan ini hendaknya dijadikan waktu introspeksi dan ibadah agar saat kembali ke masyarakat nanti, saudara-saudara bisa bermanfaat bagi keluarga.”
Pesan itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah ajakan “pulang” ke jalan yang benar. Sang Kapolres ingin memastikan bahwa meski raga mereka terbatas oleh jeruji, spiritualitas mereka tetap harus memiliki kemerdekaan untuk bertobat.
Khidmat dalam Kebersamaan
Saat azan Magrib berkumandang, suasana mencapai puncaknya. Tidak ada perbedaan menu antara Kapolres dan penghuni sel. Semua membatalkan puasa dengan takjil yang sama, dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah yang berlangsung khidmat.
Setelah sujud terakhir, mereka duduk melingkar untuk makan malam bersama. Percakapan ringan mengalir, sesekali tawa kecil terdengar, menghapus stigma negatif bahwa polisi hanya bisa menghukum.
Menghormati Martabat Manusia
Langkah humanis ini dilakukan serentak di seluruh jajaran Polsek di bawah Polres Bintan. Tujuannya satu: menunjukkan bahwa hak spiritual dan martabat manusia tidak hilang hanya karena seseorang menyandang status tahanan.
Pendekatan “hati ke hati” ini diharapkan mampu memberikan energi positif. Polres Bintan percaya, kesadaran hukum yang hakiki lahir dari hati yang merasa dihargai, bukan sekadar takut pada sanksi.
Melalui buka puasa bersama ini, ada sebuah pesan tersirat yang ditinggalkan di Ruang Tahanan Mapolres Bintan: Bahwa di bulan yang suci, selalu ada ruang untuk berbagi, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri, dan selalu ada jalan untuk kembali menjadi manusia yang berarti.
Editor: Budi Adriansyah

















