Kupang, 23/7/2026
Empat puluh hari.
Itu masa jabatan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Rabu, 22 Juli 2026, ia mengundurkan diri dengan alasan berobat jantung ke luar negeri.
Kepergian Nanik menambah panjang daftar kegaduhan di BGN. Sebelumnya, Dadan Hindayana dicopot dari kursi yang sama. Sehari berselang, Dadan bersama dua mantan wakilnya, Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya dan Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung, ditahan Kejagung sebagai tersangka dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di hari pertama penahanan, Sony Sonjaya mengunggah surat tulisan tangan. Isinya ucapan selamat untuk Nanik. Di akhir surat ada kalimat: “terima kasih atas hadiah indahnya”. Publik menilainya sebagai sindiran. “Hadiah” itu diduga merujuk pada jerat hukum yang kini menjerat mereka.
Nanik bukan sosok baru. Ia loyalis Prabowo sejak 2014 dan sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN. Namanya juga disebut memiliki beberapa dapur MBG, salah satunya di Madiun, Jawa Timur. Partai Gerindra menegaskan pengunduran dirinya murni karena alasan kesehatan, bukan karena terseret kasus.
*Kursi Diisi “Hambalang Boys”*
Pengganti Nanik adalah Sudaryono, 41 tahun. Ia dikenal sebagai bagian dari “Hambalang Boys”, lingkaran anak muda dekat Presiden Prabowo. Untuk menjabat Kepala BGN, Sudaryono melepas posisinya sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut penunjukan ini karena Sudaryono sudah terlibat sejak awal dalam perumusan program MBG.
Pergantian diharapkan membawa stabilitas. Namun di lapangan yang muncul justru tanda tanya.
*Keresahan Publik*
Di dapur-dapur MBG, grup WhatsApp orang tua, hingga warung kopi, pertanyaan yang sama mengemuka: *BGN ini lembaga gizi atau tempat transit pejabat*?
MBG adalah program prioritas nasional. Sasarannya 82 juta penerima: anak sekolah, ibu hamil, dan lansia. Anggarannya triliunan rupiah. Tujuannya jelas: menurunkan stunting dan menyiapkan generasi sehat.
Namun ketika pimpinan berganti secepat ganti seragam, kepercayaan publik terkikis. Dua kepala sebelumnya berurusan dengan hukum. Satu lagi mundur. Wajar jika muncul kecurigaan ada persoalan sistemik di balik menu bergizi.
Relawan kelelahan. Mitra dapur kebingungan. Yang paling dirugikan adalah anak-anak.
*Tiga Tuntutan*
Publik tidak butuh wacana. Mereka butuh tiga hal:
*Pertama, bersih.* Usut tuntas kasus korupsi di tubuh BGN. Tanpa tebang pilih.
*Kedua, transparan.* Buka aliran anggaran, daftar vendor, dan harga per porsi MBG ke publik.
*Ketiga, stabil.* Hentikan gonta-ganti pimpinan. Beri Sudaryono ruang kerja, sekaligus pengawasan ketat agar tidak mengulang kesalahan.
Sudaryono kini memikul dua tugas berat: membersihkan BGN dan memastikan 16.000 lebih dapur MBG tetap beroperasi. Gagal pada satu, maka gagal semuanya.
*Penutup*
Yang diminta rakyat sangat sederhana: makanan bergizi, setiap hari, tepat waktu, dan tanpa korupsi.
Jangan jadikan anak-anak sebagai korban dari tarik-menarik kursi kekuasaan.
Jangan jadikan MBG sebagai proyek pencitraan yang kehabisan napas di tengah jalan.
Pak Sudaryono, ini bukan soal loyalitas. Ini soal nyawa.
*BGN harus segera tenang. Karena perut anak tidak bisa ditunda.*
Sumber: BDS Allience
Teras Batin Oebufu,
23 Juli 2026
Yohanes Tafaib

















