Kupang –
Di sebuah siang yang hangat di Aula El Tari Kupang, Kamis, 10 April 2026, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni peluncuran buku, melainkan momen reflektif yang merangkum perjalanan satu tahun kepemimpinan Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma.
Buku berjudul “Asa dan Rasa” itu hadir bukan sebagai catatan keberhasilan semata. Ia lebih menyerupai cermin—yang memantulkan harapan, kerja keras, sekaligus kejujuran atas kekurangan yang masih tersisa.
“Ini bukan sekadar dokumentasi,” begitu pesan yang tersirat dari peluncuran tersebut. “Ini adalah ruang refleksi dan bentuk pertanggungjawaban moral kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur.”
Antara Harapan dan Kenyataan
Setahun memimpin bukanlah waktu yang panjang untuk menjawab kompleksitas persoalan di Nusa Tenggara Timur.
Namun, bagi Melki Laka Lena dan Johni Asadoma, periode itu cukup untuk belajar membaca denyut kebutuhan rakyat—dari desa hingga kota, dari pesisir hingga pegunungan.
Di dalam buku itu terangkum langkah-langkah awal: program yang dirancang, capaian yang diraih, hingga catatan jujur tentang apa yang belum maksimal. Sebab membangun daerah seperti NTT bukan sekadar soal administrasi pemerintahan, tetapi juga tentang merawat keberagaman sosial dan menghadirkan rasa keadilan.
Membangun dari Pinggiran
Salah satu benang merah dalam “Asa dan Rasa” adalah komitmen membangun dari akar—desa dan masyarakat kecil.
Melalui semangat “Ayo Bangun NTT”, pemerintah provinsi mendorong berbagai program Quick Wins dan Tujuh Pilar pembangunan.
Program seperti OVOP (One Village One Product), OSOP, NTT Mart, hingga Dapur NTT menjadi instrumen untuk menggerakkan ekonomi berbasis lokal.
Bukan sekadar jargon, melainkan upaya konkret agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berputar di pusat kota, tetapi benar-benar menjangkau masyarakat di pelosok.
Di balik itu semua, tersimpan satu gagasan besar: bahwa kesejahteraan harus dirasakan secara merata.
Mengajak Diaspora Pulang Berkontribusi
Lebih dari sekadar pembangunan fisik dan ekonomi, pemerintah juga membuka pintu bagi diaspora NTT—mereka yang merantau ke berbagai daerah bahkan luar negeri.
Ajakan itu sederhana, tetapi bermakna: kembali berkontribusi, tidak harus secara fisik, tetapi melalui ide, jejaring, maupun investasi. Sebuah bentuk cinta yang diwujudkan dalam aksi nyata bagi tanah kelahiran.
Kejujuran yang Diperlukan
Yang membuat buku ini berbeda adalah keberanian untuk mengakui kekurangan. Tidak semua program berjalan sempurna, tidak semua harapan terjawab dalam satu tahun.
Namun justru di situlah nilai penting “Asa dan Rasa”. Ia tidak hanya merayakan capaian, tetapi juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengevaluasi perjalanan yang telah dilalui.
Sebab pembangunan bukan kerja satu pihak. Ia adalah kolaborasi panjang antara pemerintah, DPRD, tokoh adat, tokoh agama, ASN, hingga seluruh masyarakat.
Kolaborasi sebagai Kunci
Di penghujung refleksi, satu pesan menguat: bahwa masa depan NTT tidak bisa dibangun sendiri. Ia membutuhkan kebersamaan, saling percaya, dan kemauan untuk berjalan dalam satu arah.
“Mari terus bergandengan tangan,” menjadi ajakan yang relevan—bukan hanya sebagai penutup buku, tetapi juga sebagai pengingat bahwa harapan besar hanya bisa dicapai melalui kerja kolektif.
Dan dari Aula El Tari hari itu, “Asa dan Rasa” tidak sekadar diluncurkan. Ia dilepaskan sebagai narasi hidup—tentang perjalanan yang masih panjang menuju Nusa Tenggara Timur yang lebih sehat, cerdas, dan sejahtera.
Editor : Boni Atolan

















