banner 728x250

Ancaman Baru: Intensifikasi Sawah Persempit Lahan Gembala Sapi di Malaka

banner 120x600
banner 468x60

BETUN, Kabupaten Malaka – 3 Desember 2025

Program intensifikasi lahan sawah, yang bertujuan meningkatkan produksi padi, justru menjadi ancaman tak terduga bagi peternakan sapi potong tradisional di Kabupaten Malaka. Pola peternakan yang selama ini mengandalkan lahan sawah bera (tidak ditanami) sebagai padang gembala tambahan, terancam tergusur.

banner 325x300

“Ini ironi pembangunan. Di satu sisi kita ingin swasembada pangan dengan intensifikasi padi dari IP 100 menjadi IP 200 atau 300 (dua atau tiga kali tanam setahun). Di sisi lain, program itu secara tidak langsung menghilangkan ‘rest area’ atau lahan makan sementara bagi ribuan ekor sapi saat musim kemarau,” jelas Metilde Seran, Plh. Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malaka.

Ia memaparkan, di daerah-daerah sentra padi seperti Kobalima, Malaka Tengah, Malaka Barat, Weliman, dan sebagian Wewiku, peternak biasa menggembalakan sapinya di sawah setelah panen. Pola pemeliharaan ini paling ekonomis dan sudah membudaya, bahkan memungkinkan kepemilikan hingga lebih dari 100 ekor per peternak.

“Jika sawah terus ditanami sepanjang tahun, hilanglah akses gembala itu. Konsekuensinya, peternak akan terpaksa mengurangi jumlah ternaknya karena biaya pakan akan membengkak. Ini berpotensi menurunkan populasi sapi secara signifikan,” tegas Seran.

Untuk mengantisipasi konflik kepentingan ini, Dinas Peternakan mendorong inovasi Integrasi Padi-Sapi. “Kita ubah ancaman jadi peluang. Jerami hasil intensifikasi padi, yang biasanya dibakar, harus diolah menjadi pakan sapi. Dengan pendekatan zero waste, petani dapat pendapatan dari padi dan dari ternak yang memanfaatkan limbahnya,” tambahnya.

 

banner 325x300
error: Content is protected !!