banner 728x250

DI JALAN SUNYI SEORANG INTELEKTUAL: KISAH PANJANG PIUS RENGKA Feature oleh : Dr. John Bernando Seran, SH.M.Hum

banner 120x600
banner 468x60

( Photo : John Bernando Seran) 

Ada perjumpaan-perjumpaan dalam hidup yang tidak sekadar meninggalkan kesan, tetapi membentuk perjalanan seseorang. Bagi saya, salah satu perjumpaan itu terjadi pada penghujung tahun 1988, di sebuah ruangan yang dipenuhi aroma tinta, buku-buku, dan semangat intelektual: ruang dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Mandira, Kupang.

banner 325x300

Di sanalah untuk pertama kalinya saya melihat sosok Pius Rengka—dosen muda Manggarai yang kelak saya panggil Kraeng dengan penuh hormat. Ia berdiri dengan ketenangan yang memantulkan wibawa. Suaranya berat, tidak tergesa, tetapi mengalir seperti sungai yang sudah hafal betul arah arusnya. Kalimat-kalimatnya rapi, terukur, dan memancarkan ketegasan seorang pemikir muda yang sedang menempa diri.

Sejak saat itu, saya tahu, saya sedang bertemu seorang intelektual yang menapaki jalannya sendiri—jalan yang tidak ramai, tidak bising, tetapi penuh kerja sunyi.

Benih yang Ditabur Seorang Guru

Sebagai mahasiswa yang sedang belajar menulis, saya terpukau pada kejernihan pikirannya. Dalam setiap percakapan, ia menyapa saya bukan hanya sebagai murid, tetapi sebagai sesama pencari kebenaran. Di sela diskusi, di antara kopi dan kertas, saya menemukan seorang kakak yang memandu tanpa menggurui.

Pada masa itu, tulisan-tulisannya hampir setiap minggu menghiasi harian nasional Prioritas. Setiap karya menjadi ruang belajar baru bagi saya. Diksinya kuat, pilihan katanya tajam, dan gagasannya mengalir tanpa kehilangan pijakan logika. Ia bukan sekadar menulis opini—ia membangun panggung intelektual.

Ada satu kalimat darinya yang saya bawa hingga sekarang, seperti mantra yang menjaga api belajar saya tetap menyala:

“Adék, teruslah membaca dan menulis. Karena kepandaian menulis adalah kolaborasi antara kapasitas dan identitas seorang intelektual.”

Kalimat itu menampar sekaligus menuntun. Sejak itu, saya memahami bahwa menulis bukan soal teknis, tetapi soal karakter.

Bertemu Kembali di Ruang Redaksi

Tahun 1990, kehidupan membawa kami pada bab yang berbeda, namun masih dalam garis yang sama. Saya ditugaskan sebagai salah satu reporter Harian Umum Pos Kupang oleh Gubernur Piet A. Tallo. Dan di sana—di ruang redaksi yang bising tetapi penuh energi—Kraeng Pius telah lebih dulu duduk sebagai salah satu pilar redaksi, bersama bang Damyan Godho dan Valens Goa Doy.

Di ruang itu, saya belajar lagi, bukan hanya dari tulisannya, tetapi dari sikapnya dalam mengelola kata dan data. Ia menunjukkan bahwa jurnalisme bukan sekadar pekerjaan; ia adalah tanggung jawab moral terhadap publik.

Hubungan kami tidak lagi sekadar kakak dan adik; ia seperti cahaya yang membimbing arah pena saya.

Waktu bergerak cepat. “Time flies an arrow”—begitu orang bilang. Namun, persahabatan intelektual kami tidak pernah kehilangan arah. Bahkan ketika ia duduk di kursi DPRD NTT dari Fraksi Golkar, dan saya masih memegang kamera serta buku catatan sebagai wartawan, ia tetap hadir sebagai narasumber yang jernih dan kritis.

Hari Ketika Gelar Doktor Itu Diraih

Hari ini, meski saya tidak dapat hadir menyaksikan langsung, hati saya dipenuhi kebanggaan ketika mendengar bahwa Kraeng Pius Rengka resmi meraih gelar Doktor dalam sidang promosi terbuka di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jumat 14 November 2025.

Di ruangan itu hadir pula nama-nama besar dari tanah kami:

Mantan Gubernur NTT Dr. Victor Bungtilu Laiskodat, SH., M.Si.

Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran, M.PH.

Mereka bukan hanya undangan; mereka adalah bukti bahwa pemikiran Kraeng Pius memiliki resonansi di ruang publik dan politik Nusa Tenggara Timur.

Disertasi Tentang Kepemimpinan yang Mengubah Wajah NTT

Disertasi Kraeng Pius mengangkat tema yang tidak hanya relevan, tetapi mendesak untuk dibahas: kepemimpinan transformasional di masa pemerintahan Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat.

Ia menelisik perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang lahir dari kebijakan-kebijakan strategis di era itu. Dengan perspektif akademik yang kuat, ia membedah bagaimana transformasi kepemimpinan mampu menggugah sistem dan mendorong perubahan struktur di Provinsi NTT.

Disertasi ini bukan sekadar dokumen ilmiah; ia adalah cermin yang mengajak kita menilai kembali jenis kepemimpinan seperti apa yang diperlukan untuk membawa NTT melampaui stigma dan batas-batas lama.

Seperti biasanya, ia tidak hanya menulis—ia mengajarkan.

Terima Kasih dari Seorang Adik

Sampai hari ini, saya masih merasa berutang budi kepada Kraeng Pius. Pada tahun 2011, dalam buku saya Persaingan Hukum dan Politik, ia menuliskan sebuah prolog yang diberi judul “Menelusuri Jejak Pengembara Intelektual.”

Kini, setelah ia mencapai puncak akademik, rasanya tepat untuk mengembalikan penghormatan itu melalui tulisan ini—tulisan tentang seorang pengembara yang tidak pernah berhenti berjalan, tidak pernah berhenti membaca, tidak pernah berhenti menulis.

Hidup telah menjadi sekolahnya, dan ia telah menjadi murid terbaik sekolah itu.

Non scholae sed vitae discimus—kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk kehidupan.

Proficiat, Dr. Pius Rengka

Selamat, Kraeng. Semoga derap langkah intelektualmu terus menuntun generasi muda NTT untuk mencintai ilmu, menjunjung budaya, dan menjaga integritas berpikir.

Perjalananmu adalah pelita yang menegaskan bahwa keunggulan lahir dari disiplin, kerja sunyi, dan kesetiaan pada gagasan.

Hidup ini sekolah yang panjang, dan engkau telah menunjukkan bagaimana caranya berjalan. ****

banner 325x300
error: Content is protected !!