Surabaya, 3 Oktober 2025
Nama Kabupaten Malaka, sebuah wilayah kecil di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tiba-tiba menjadi buah bibir di seluruh Indonesia. Bukan karena kontroversi, bukan pula karena politik atau bencana, melainkan karena prestasi luar biasa anak-anak muda mereka yang menembus babak final turnamen bergengsi Piala Presiden U-15 yang digelar di Kota Surabaya. Dalam waktu singkat, Malaka tidak lagi hanya terdengar di lingkup Selatan Pulau Timor Indonesia, melainkan dielu-elukan secara nasional berkat semangat juang dan talenta luar biasa yang diperlihatkan tim PS Malaka U-15.
Pertandingan yang disiarkan langsung di televisi nasional dan diliput luas oleh media membuat masyarakat Indonesia, terutama warga Surabaya, dibuat kagum. Antusiasme tinggi terlihat di berbagai lini, mulai dari warga biasa, akademisi, pengusaha, hingga seniman. Mereka bukan hanya menyaksikan pertandingan, tapi juga menyerap semangat dan pesan yang jauh lebih besar: bahwa sepak bola bisa menjadi sarana mempersatukan, mempromosikan, dan membangun daerah — jika dikelola dengan hati dan visi yang tepat.
Dalam sebuah diskusi santai bersama wartawan di Warkop Kantin Kampus Unitomo Surabaya, Jumat (3/10/2025), dosen Fakultas Perikanan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), Ir. Bambang Sigit, menyampaikan pandangan tajamnya mengenai keberhasilan ini. Ia menilai langkah Pemerintah Kabupaten Malaka, di bawah kepemimpinan Bupati, Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Henri Melki Simu, sebagai bukti keberhasilan dalam membangun komunikasi daerah melalui jalur olahraga. Menurutnya, sepak bola bukan hanya sarana kompetisi, melainkan alat komunikasi strategis yang mampu memperkenalkan daerah ke tingkat nasional bahkan internasional.
Bambang menyoroti bahwa dalam satu minggu terakhir, nama Malaka disebut-sebut dalam berbagai kanal media nasional dan regional secara berkesinambungan. “Ini bentuk komunikasi daerah yang berhasil. Mereka membangun image positif tanpa harus bayar iklan mahal. Cukup melalui semangat dan permainan anak-anak mereka di lapangan hijau,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi bakat alam yang dimiliki anak-anak Malaka. Meski belum dilatih oleh Sekolah Sepak Bola (SSB) profesional, kemampuan mereka bersaing di level nasional membuktikan bahwa talenta hebat tumbuh di tanah Flobamora. Ia berharap momentum ini bisa menjadi titik tolak bagi pembangunan sepak bola usia dini yang lebih sistematis di Kabupaten Malaka dan wilayah NTT secara umum. “Kalau dibina dengan serius sejak dini, mereka bisa menjadi kekuatan baru sepak bola nasional,” katanya penuh harap.
Sementara itu, Hendy Krissanto, seorang pengusaha muda asal Surabaya yang juga pemerhati sepak bola, menyebut langkah Pemkab Malaka untuk membina anak usia dini lewat sepak bola sebagai strategi yang sangat tepat. Menurutnya, sepak bola kini telah memasuki era industri, sehingga pembinaan sejak usia dini bukan hanya penting dari sisi olahraga, tetapi juga dari segi ekonomi dan pembangunan karakter. “Banyak daerah belum sadar bahwa sepak bola bisa jadi aset jangka panjang. Malaka sudah mengambil langkah itu lebih dulu. Salut untuk mereka,” ujar Hendy.
Yang menarik, keberhasilan PS Malaka U-15 tidak berdiri sendiri. Tim ini selalu didampingi langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati, para guru olahraga, kepala sekolah, dan orang tua pemain. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai pendamping moril dan pendukung utama. Inilah yang membuat tim ini terasa berbeda. Ada kebersamaan yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan keluarga. Suatu model pembinaan yang layak menjadi contoh nasional.
Seniman muda Surabaya, Denny, yang bersama band-nya menghibur penonton di partai final di Stadion Gelora 10 November Surabaya, juga menyampaikan kekagumannya. Menurutnya, PS Malaka U-15 tidak hanya bermain bola, tetapi juga membawa pesan kebersamaan dan harapan. “Saya lihat dari babak penyisihan sampai final, semangat mereka luar biasa. Ini bukan sekadar pertandingan, tapi perjuangan yang menyentuh hati. Apalagi mereka selalu didampingi oleh kepala daerah dan para pendidik, itu luar biasa,” ucapnya.
Denny yang juga pencinta sepak bola menyampaikan proficiat kepada PS Malaka atas pencapaian luar biasa ini. Ia berharap anak-anak muda Malaka terus melangkah lebih jauh, tidak cepat puas, dan tetap berlatih untuk menggapai mimpi yang lebih besar.
Kisah ini menjadi cermin bagi kita semua bahwa sepak bola bisa menjadi jembatan perubahan, bukan hanya hiburan semata. Pemerintah Provinsi NTT dan kabupaten/kota lainnya harus melihat momentum ini sebagai panggilan untuk bertindak. Sudah saatnya membangun sistem pembinaan sepak bola yang berkelanjutan, menyediakan fasilitas, pelatihan, dan wadah kompetisi bagi anak-anak di seluruh pelosok daerah.
Dari Kabupaten Malaka, kita belajar bahwa mimpi bisa dikejar dari mana saja. Bahwa prestasi tidak hanya milik kota besar. Dan bahwa sepak bola — dengan segala kesederhanaannya — bisa menjadi panggung besar untuk memperkenalkan nama daerah ke mata dunia.
Anak-anak PS Malaka U-15 telah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar peserta. Mereka adalah simbol harapan baru dari Selatan Indonesia. Kini saatnya kita semua — dari pemerintah, masyarakat, hingga dunia usaha — mendukung langkah mereka. Karena di kaki-kaki kecil itu, tersimpan kekuatan besar untuk membangun bangsa lewat olahraga.
“Jangan berhenti di sini, teruslah menendang bola dan menendang batas-batas ketidakmungkinan. Sepak bola adalah jalan sunyi yang bisa membawa cahaya ke tempat-tempat yang selama ini terlupakan. Dari Malaka untuk Indonesia.”
Editor : Boni Atolan

















