Pendahuluan
Turnamen Respek OBM Cup III 2025 di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, memadukan pertandingan sepak bola dengan pertunjukan budaya tradisional Likurai. Kegiatan ini menjadi ajang olahraga sekaligus festival budaya yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi lokal, promosi budaya daerah, dan pengembangan pariwisata.
Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan sumber data dari pemberitaan media lokal dan literatur akademik, kajian ini menemukan bahwa Respek OBM Cup III berperan sebagai katalisator pembangunan multifungsi: menggerakkan sektor ekonomi, melestarikan budaya, dan menciptakan peluang event-based tourism.
Olahraga, di banyak wilayah, tidak sekadar kompetisi fisik. Ia menjadi wahana integrasi sosial, pelestarian budaya, dan penggerak ekonomi daerah. Event olahraga lokal kerap menciptakan multiplier effect terhadap ekonomi — dari peningkatan konsumsi masyarakat hingga penciptaan lapangan kerja sementara (Higham, 2005).
Kabupaten Malaka melalui Respek OBM Cup III 2025, yang diprakarsai komunitas pemuda binaan Robertus Belarmino Klau, ST, menghadirkan model integrasi olahraga dan seni tradisional, khususnya tarian Likurai. Turnamen ini bukan sekadar kompetisi sepak bola, melainkan sebuah festival kebersamaan masyarakat, budaya, dan potensi wisata (RaebesiNews, 2025; Radar Malaka, 2025).
Sport Tourism dan Pertumbuhan Ekonomi
Sport tourism adalah segmen pariwisata yang melibatkan perjalanan untuk menonton atau berpartisipasi dalam kegiatan olahraga (Gibson, 1998). Event olahraga dapat menciptakan peluang ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dampak Langsung (Direct Impact):
- Pengeluaran wisatawan: akomodasi, makan-minum, transportasi, tiket masuk, dan belanja lokal.
- Penyerapan tenaga kerja sementara: petugas keamanan, panitia, penjual makanan, pemandu wisata, hingga pekerja logistik.
- Pendapatan UMKM lokal: pedagang kaki lima, warung makan, penyewaan kendaraan, dan penginapan mengalami peningkatan omset.
Dampak Tidak Langsung (Indirect Impact):
- Rantai pasok lokal: meningkatnya permintaan barang/jasa memengaruhi pemasok makanan, minuman, dan peralatan olahraga.
- Efek berganda (multiplier effect): pendapatan pelaku usaha berputar kembali di ekonomi lokal.
Selama turnamen, pelaku UMKM, penyedia transportasi, dan pedagang kaki lima mengalami peningkatan penjualan. Meskipun belum ada data kuantitatif resmi, fenomena ini konsisten dengan temuan Higham (2005) bahwa event olahraga lokal memicu perputaran uang di daerah.
Pelestarian Budaya melalui Event Olahraga
Kombinasi olahraga dan budaya memperkuat identitas lokal. Richards (2010) menyebut event budaya-olahraga sebagai sarana promosi daerah sekaligus media edukasi generasi muda.
Pelestarian budaya mencakup warisan benda (tangible heritage) dan warisan takbenda (intangible heritage) seperti bahasa, musik, dan tarian (UNESCO, 2003). Event olahraga dapat menjadi media pelestarian budaya jika elemen budaya lokal diintegrasikan ke dalam desain acaranya.
Pembukaan Respek OBM Cup III dimeriahkan 500 penari Likurai membentuk formasi artistik yang memadukan nilai estetika dan simbol identitas Malaka (Radar Malaka, 2025). Likurai bukan sekadar tarian hiburan, tetapi media komunikasi budaya sebagaimana diulas Fahik (2022) dalam kajian sastra budaya.
Event-driven Tourism: Peningkatan Daya Tarik Wisata
Menurut Getz (2008), event-driven tourism memanfaatkan acara besar sebagai daya tarik sementara yang mampu memengaruhi citra destinasi dalam jangka panjang.
Respek OBM Cup III adalah contoh konkret sport-cultural tourism di Malaka dengan beberapa keunggulan:
- Daya tarik utama: kombinasi sepak bola dan pertunjukan 500 penari Likurai yang menjadi unique selling point.
- Aksesibilitas: meski bukan kota besar, penyelenggaraan di Lapangan Umum Betun mudah dijangkau warga lokal dan kabupaten tetangga.
- Keterlibatan masyarakat: pemerintah daerah, sekolah, komunitas budaya, dan pelaku usaha lokal ikut berpartisipasi aktif.
- Promosi: liputan media lokal seperti RaebesiNews dan Radar Malaka, serta dokumentasi di media sosial, memperluas jangkauan promosi.
Penutup
Respek OBM Cup III 2025 membuktikan bahwa event olahraga yang dipadukan dengan budaya lokal dapat menjadi instrumen strategis pembangunan daerah. Keberhasilan turnamen ini mencakup:
- Menggerakkan perekonomian lokal.
- Memperkuat pelestarian budaya melalui Likurai.
- Menarik minat wisatawan dengan konsep sport-cultural tourism.
Rekomendasi:
- Pengukuran dampak ekonomi: melalui survei dan pencatatan data selama event.
- Paket wisata budaya-olahraga: menggabungkan tiket pertandingan dengan pertunjukan budaya.
- Digitalisasi promosi: memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menjadikan event sebagai agenda tahunan unggulan Malaka.
Referensi Pustaka:
- Fahik, R. (2022). Promosi Pariwisata Budaya Kabupaten Malaka dalam Novel Likurai Untuk Sang Mempelai. Jurnal Ilmiah Kebudayaan, 5(2), 123–134.
- Getz, D. (2008). Event tourism: Definition, evolution, and research. Tourism Management, 29(3), 403–428. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2007.07.017
- Gibson, H. (1998). Sport tourism: A critical analysis of research. Sport Management Review, 1(1), 45–76.
- Higham, J. (2005). Sport tourism destinations: Issues, opportunities, and analysis. Oxford: Elsevier Butterworth-Heinemann.
- Radar Malaka. (2025, Agustus 9). 500 Penari Likurai SMAN Harekakae Meriahkan Pembukaan Respect OBM Cup III. Retrieved from https://radarmalaka.com/500-penari-likurai-sman-harekakae-meriahkan-pembukaan-respect-obm-cup-iii/
- RaebesiNews. (2025, Agustus 11). Respek OBM Cup III: Ketika Sepak Bola dan Likurai Bersatu Menjadi Pesta Kebersamaan Malaka. Retrieved from https://www.raebesinews.com/olahraga/2261480380/respek-obm-cup-iii-ketika-sepakbola-dan-likurai-bersatu-menjadi-pesta-kebersamaan-malaka

















