banner 728x250

Jangan Menjauh Saat Jatuh dalam Dosa, P. Domi Dheo: Biarkan Diri Ditemukan Kerahiman Allah

banner 120x600
banner 468x60

KUPANG,  – Pengetahuan, jabatan, prestasi, bahkan ketaatan terhadap aturan agama dapat berubah menjadi sumber kesombongan apabila tidak melahirkan kerendahan hati dan kasih kepada sesama. Sebaliknya, pengalaman akan kerahiman Allah mengajarkan manusia untuk berhenti menghakimi, berani mengakui dosa, dan kembali kepada Tuhan.

Pesan reflektif tersebut disampaikan P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor melalui Renungan Jiwa Pekan Biasa XXXI, Kamis (5/11/2026), dengan tema “Dari Pengetahuan yang Membuat Sombong, ke Kerahiman yang Membuat Sujud”.

banner 325x300

Bertolak dari bacaan Kitab Suci Filipi 3:3-8a dan Injil Lukas 15:1-10, P. Domi mengajak umat untuk memahami bahwa nilai sejati kehidupan beriman bukan terletak pada banyaknya pengetahuan agama, gelar akademis, jabatan, ataupun prestasi, melainkan pada kedalaman relasi dengan Yesus Kristus dan kesediaan hidup dalam kerahiman-Nya.

Dalam refleksinya, P. Domi mengangkat pengalaman Rasul Paulus yang sebelumnya memiliki kebanggaan besar terhadap identitas, latar belakang keagamaan, dan ketaatannya pada hukum Taurat. Namun, setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, seluruh kebanggaan tersebut dianggapnya sebagai kerugian dibandingkan dengan kemuliaan mengenal Yesus Kristus.

Paulus bahkan menegaskan bahwa segala sesuatu yang dahulu menjadi keuntungan baginya kini dianggap sebagai kerugian karena pengenalan akan Kristus Yesus jauh lebih mulia.

Menurut P. Domi, pengalaman Paulus menjadi kritik bagi setiap orang beriman yang kerap menjadikan pengetahuan, jabatan, dan ketaatan sebagai alasan untuk merasa lebih suci atau lebih benar daripada orang lain.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tentang Kitab Suci, hukum Gereja, maupun persoalan kemanusiaan harus menghasilkan sikap rendah hati dan kepedulian, bukan kesombongan serta kebiasaan menghakimi.

“Pengetahuan membuatnya merasa benar dan menghakimi orang lain. Kerahiman membuatnya merasa diampuni dan mengasihi orang lain,” demikian salah satu penekanan dalam refleksinya.

P. Domi juga menghubungkan pesan tersebut dengan Injil Lukas tentang dua perumpamaan Yesus, yakni domba yang hilang dan dirham yang hilang.

Melalui kedua perumpamaan itu, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang tidak membuang manusia ketika jatuh dalam dosa. Sebaliknya, Allah justru mencari, menantikan, dan menyambut kembali setiap orang yang mau bertobat.

Gembala yang meninggalkan 99 domba untuk mencari seekor yang hilang serta perempuan yang menyalakan pelita dan menyapu rumah demi menemukan satu dirham menggambarkan betapa berharganya setiap pribadi di hadapan Allah.

P. Domi menegaskan bahwa Allah bukanlah sosok yang sekadar menunggu manusia datang untuk menerima hukuman, melainkan Bapa yang penuh kerahiman dan mengambil inisiatif mencari manusia yang tersesat.

Pesan ini sekaligus menjadi penghiburan bagi mereka yang sedang bergumul dengan dosa, rasa bersalah, dan kegagalan hidup.

Menurutnya, ketika manusia jatuh dalam dosa, sering kali muncul kecenderungan untuk menjauh dari Allah karena malu dan takut dihakimi. Padahal, Injil justru mengundang manusia agar tidak bersembunyi, melainkan berani kembali kepada Tuhan.

BERANI BERSUJUD KETIKA JATUH

Memasuki bagian refleksi praktis, P. Domi mengajukan pertanyaan mendasar kepada umat: “Beranikah kita bersembah sujud di hadapan-Nya ketika jatuh dalam dosa?”

Pertanyaan tersebut menjadi inti permenungan karena tidak sedikit orang berani bersujud ketika memperoleh keberhasilan, pujian, jabatan, atau berkat, tetapi justru menjauh ketika mengalami kegagalan dan jatuh dalam dosa.

Melalui teladan Paulus dan perumpamaan domba yang hilang, umat diajak untuk tidak membiarkan rasa malu dan ketakutan menghalangi langkah kembali kepada Allah.

P. Domi juga mengingatkan para pejuang kemanusiaan, biarawan, biarawati, aktivis, serta seluruh umat beriman agar waspada terhadap kesombongan, kebiasaan menghakimi, percakapan hampa, dan kelelahan yang membuat seseorang kehilangan semangat dalam menjalankan panggilan hidupnya.

“Jangan menjauh. Jangan sembunyi. Datanglah. Bersujudlah. Biarkan Dia menemukanmu,” demikian ajakan reflektif P. Domi.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan sejati bukan sekadar mengetahui banyak hal tentang Allah, melainkan kesediaan membiarkan diri ditemukan, diampuni, dan dipulihkan oleh kerahiman-Nya.

Renungan ini ditutup dengan doa agar Tuhan Yesus, Sang Gembala yang mencari, membebaskan manusia dari kesombongan dan sikap merasa paling benar. Umat juga diajak berhenti melarikan diri ketika jatuh dalam dosa serta membuka hati agar kembali digendong oleh kasih Allah.

“Pengetahuan sejati adalah membiarkan diri ditemukan oleh Kerahiman Allah.”

Pesan inilah yang menjadi penegasan akhir Renungan Jiwa P. Domi K. Dheo, SVD, dari JPIC SVD Timor, dengan semangat Kasih Sin-Fronteras: bergerak dari pengetahuan yang menghakimi menuju kerahiman yang mengampuni dan menggendong.

 

Boni Atolan

banner 325x300
error: Content is protected !!