Malaka – Masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan Indonesia–Republik Demokratik Timor-Leste (RI–RDTL) selama bertahun-tahun dihadapkan pada tantangan yang sama ketika membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik. Tidak sedikit pasien harus menempuh perjalanan berjam-jam menuju rumah sakit rujukan di luar Kabupaten Malaka karena keterbatasan fasilitas medis.
Kondisi tersebut perlahan mulai berubah.
Rumah Sakit Umum Penyangga Perbatasan (RSUPP) Betun terus bertransformasi menjadi rumah sakit rujukan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan semakin lengkap bagi masyarakat perbatasan. Pada Tahun Anggaran 2026, rumah sakit milik pemerintah itu akan membangun lima gedung pelayanan kesehatan baru melalui dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Kesehatan senilai Rp7,4 miliar.
Direktur RSUPP Betun, dr. Oktelin Kurniawati Kaswadie, FisQua, mengatakan pembangunan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan di wilayah strategis perbatasan negara.
Lima fasilitas yang akan dibangun meliputi Gedung CT-Scan, Gedung Cytotoxic, Gedung Pediatric Intensive Care Unit (PICU), Gedung Neonatal Intensive Care Unit (NICU), serta Gedung Cathlab. Seluruh pembangunan akan dilaksanakan di kompleks RSUPP Betun selama Tahun Anggaran 2026.
Menurut dr. Oktelin, kehadiran fasilitas-fasilitas tersebut bukan sekadar menambah bangunan fisik, tetapi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Malaka dan kawasan perbatasan RI–RDTL.
“Tujuan utama pembangunan ini adalah menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih lengkap, lebih cepat, dan lebih berkualitas. Kami ingin semakin banyak pasien dapat ditangani di RSUPP Betun tanpa harus dirujuk ke rumah sakit yang jauh,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Wilayah Perbatasan
Sebagai rumah sakit penyangga perbatasan, RSUPP Betun memiliki peran yang berbeda dengan rumah sakit daerah pada umumnya. Wilayah pelayanan tidak hanya mencakup masyarakat Kabupaten Malaka, tetapi juga menjadi benteng pelayanan kesehatan bagi kawasan yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste.
Karakteristik wilayah perbatasan menuntut tersedianya layanan kesehatan yang cepat, tanggap, dan memiliki kemampuan menangani berbagai kasus kegawatdaruratan, penyakit jantung, gangguan pada bayi baru lahir, hingga pelayanan diagnostik modern.
Keberadaan CT-Scan akan mempercepat penegakan diagnosis berbagai penyakit, termasuk kasus trauma akibat kecelakaan maupun stroke. Sementara Cathlab akan memperkuat layanan jantung dan pembuluh darah yang selama ini masih sangat terbatas di kawasan perbatasan.
Di sisi lain, pembangunan PICU dan NICU menjadi investasi penting dalam menekan angka kematian bayi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Fasilitas ini memungkinkan bayi baru lahir dengan kondisi kritis maupun anak-anak yang membutuhkan perawatan intensif mendapatkan penanganan lebih cepat tanpa harus dirujuk ke luar daerah.
Adapun Gedung Cytotoxic akan mendukung pelayanan pasien yang membutuhkan terapi khusus, termasuk penanganan penyakit kanker sesuai standar keselamatan pelayanan.
Infrastruktur Harus Diimbangi SDM Berkualitas
Transformasi pelayanan kesehatan, menurut dr. Oktelin, tidak hanya bertumpu pada pembangunan gedung dan pengadaan peralatan medis modern.
RSUPP Betun juga terus melakukan penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan melalui berbagai program pendidikan, pelatihan, sertifikasi kompetensi, serta peningkatan kapasitas tenaga medis dan tenaga kesehatan sesuai kebutuhan layanan yang terus berkembang.
Dokter spesialis, perawat, bidan, tenaga radiologi, analis laboratorium, apoteker, hingga tenaga penunjang akan terus didorong mengikuti pelatihan berkelanjutan agar mampu mengoperasikan teknologi kesehatan terbaru sekaligus memberikan pelayanan yang profesional, cepat, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Upaya peningkatan kompetensi tersebut menjadi bagian dari strategi besar RSUPP Betun dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang memenuhi standar nasional sekaligus mampu menjawab tantangan pelayanan di kawasan perbatasan negara.
Sebelumnya, RSUPP Betun juga telah menggelar berbagai pelatihan peningkatan kualitas pelayanan, seperti Service Excellent dan Public Speaking, sebagai bagian dari pembentukan budaya kerja yang mengutamakan keramahan, profesionalisme, dan kepuasan pasien.
Membangun Benteng Kesehatan di Beranda Negara
Pembangunan lima gedung baru menjadi bukti bahwa penguatan wilayah perbatasan tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan jalan, pos lintas batas, maupun infrastruktur ekonomi, tetapi juga melalui investasi pada sektor kesehatan.
Dengan dukungan fasilitas yang semakin lengkap dan tenaga kesehatan yang terus ditingkatkan kompetensinya, RSUPP Betun diarahkan menjadi rumah sakit rujukan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan berkualitas bagi masyarakat di wilayah paling selatan Pulau Timor.
Bagi masyarakat perbatasan, pembangunan ini menghadirkan harapan baru. Harapan bahwa pelayanan kesehatan modern kini semakin dekat, waktu penanganan pasien menjadi lebih cepat, biaya rujukan dapat ditekan, dan kesempatan memperoleh layanan medis berkualitas tidak lagi bergantung pada jarak.
Di beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia, RSUPP Betun sedang membangun lebih dari sekadar gedung. Rumah sakit ini sedang memperkuat benteng pelayanan kesehatan, memastikan bahwa masyarakat perbatasan memperoleh hak yang sama atas layanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berkeadilan.
Editor : Boni Atolan

















