TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Sisi kelam perjuangan membentuk Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali menggema. Kisah sarat emosi dan air mata 24 tahun silam itu menjadi memori yang takkan pernah luntur bagi para tokoh Badan Pekerja Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR).
Peristiwa heroik itu terjadi di Kantor Samsat Riau, yang kini telah berganti nama menjadi Kantor UPTD PPD (Samsat) Tanjungpinang. Kala itu, para aktivis nekat mengganti plang nama kantor sebagai simbol perlawanan, sebuah aksi yang berujung pada penangkapan dan jeruji besi.
Tiga mantan mahasiswa yang pernah ditahan, yakni Jefri, Yanto, dan Amin, kembali menginjakkan kaki di tempat bersejarah tersebut pada Senin pagi 18 Mei 2026. Kehadiran mereka membawa kembali atmosfer perjuangan masa lalu.

Kepala UPTD PPD (Samsat) Tanjungpinang, Rina Hermawati, yang didampingi Kasi Pelayanan dan Penerimaan, Nurfasanty, mengaku sangat terhormat bisa bertemu langsung dengan para tokoh sejarah tersebut.
“Saya baru dua bulan lebih dilantik. Saya merasa terhormat para pejuang pembentukan Provinsi Kepri hadir di ruangan ini. Jika tidak ada perjuangan mereka, tidak mungkin kami bisa berada di sini sekarang,” ujar Rina dengan nada haru.
Rina menambahkan bahwa tema peringatan Tragedi Samsat tahun ini adalah “Menolak Lupa”. Sebuah pesan mendalam yang sengaja digaungkan agar generasi muda tidak buta terhadap sejarah tanah kelahiran mereka. Sebagai alumni Sarjana Hukum Universitas Islam Riau (UIR) yang juga mantan mahasiswa Kepri di Riau, Rina sengaja mengundang mahasiswa aktif saat ini untuk ikut mendengarkan kisah tersebut.
Kisah Pilu di Dalam Sel
Ketua Generasi Muda (GM) BP3KR, Basyaruddin Idris alias Oom, mengenang kembali detik-detik mencekam saat konflik pecah. Tragedi Samsat, menurutnya, adalah titik krusial pengambilalihan aset dari Samsat Riau menjadi Samsat Kepulauan Riau.
“Saat itu terjadi pergesekan hebat antara mahasiswa dan aparat. Situasi memanas, ada keributan, bahkan terjadi rentetan tembakan dari aparat,” kenang Oom.
Akibat bentrokan tersebut, belasan mahasiswa dilarikan ke RSUD Tanjungpinang karena mengalami luka-luka, bahkan satu di antaranya menderita patah tangan. Jefri, Yanto, dan Amin langsung ditahan oleh pihak kepolisian.
Oom sendiri ikut dijebloskan ke ruangan kosong yang kini menjadi ruang Satres Narkoba Polres Tanjungpinang. Di dalam sel yang sempit, mereka tidur berhimpitan bersama tokoh-tokoh besar Kepri lainnya.
Ada satu momen yang takkan pernah dilupakannya: kesetiaan sang istri, Sulaiha, Mantan aktivis mahasiswa yang menjadi istri Oom ini sedang hamil muda.
“Saya ditemani oleh istri saya yang sedang hamil dua bulan di dalam penjara. Kurang lebih tiga sampai empat hari dia keras kepala menemani saya di Polres, sampai akhirnya almarhum Tafriddin Jarijis menyuruhnya pulang demi kesehatan kandungannya yang menginjak tiga bulan,” tutur Oom dengan mata berkaca-kaca.
Solidaritas antar tokoh masyarakat pada masa itu juga sangat kental. Tokoh-tokoh seperti Jefri, Andi Bako, Tarmizi Usman, Sudirman Almun, hingga Huzrin Hood, rela datang ke Polres Kepri Timur membawa bantal dan kasur lantai demi bisa tidur bersama para mahasiswa yang ditahan di bawah kepemimpinan Kapolres AKBP Johanes Kwartanto kala itu.
Simbol Perjuangan Nyata
Sementara itu, Ketua Umum BP3KR sekaligus Tokoh Sentral Perjuangan Kepri, Huzrin Hood, mengungkapkan rasa syukurnya. Setelah 24 tahun berlalu, hari ini momen peringatan tersebut dapat kembali digelar langsung di Kantor Samsat Tanjungpinang.
“Tragedi Samsat ini sangat tragis, namun inilah simbol nyata dari darah dan keringat mahasiswa waktu itu dalam memperjuangkan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau,” tegas Huzrin.
Dia mengingatkan bahwa terbentuknya Provinsi Kepri tidak lepas dari izin Allah SWT dan perjuangan kolektif seluruh masyarakat. Guna merawat ingatan bersama tersebut, pihaknya kini tengah menggeser fokus pada gerakan literasi.
“Kami sedang menyusun Buku Sejarah Terbentuknya Provinsi Kepri. Semoga buku ini segera selesai agar bisa menjadi warisan ilmu dan pengetahuan bagi mahasiswa serta seluruh masyarakat Kepri saat ini,” pungkasnya.
Editor: Budi Adriansyah

















