Malaka –
Derasnya arus banjir di Kali Numponi kembali memaksa warga mengambil risiko besar. Peristiwa ini terjadi pada Senin 27/04 2026, ketika lima warga Desa Numponi nekat menerjang sungai yang meluap demi melanjutkan aktivitas berkebun, yang menjadi sumber utama penghidupan mereka.
Kelima warga tersebut masing-masing dikenal dengan sapaan Om Grasiano, Om Paustino, Om Frorindo, Om Jerse, dan Om Alariku. Aksi berbahaya ini terjadi di tengah meningkatnya debit air akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan detik-detik menegangkan saat para warga berada di tengah kali, berjuang melawan arus deras untuk mencapai seberang. Kondisi sungai yang tidak bersahabat membuat setiap langkah menjadi pertaruhan nyawa.
Momen paling kritis terjadi ketika Om Grasiano tersandung batu di tengah arus. Ia terjatuh dan nyaris terseret derasnya aliran air. Dalam situasi genting tersebut, respons cepat dari warga di pinggir sungai menjadi penentu keselamatan. Dua warga lainnya, Om Fandi dan Om Alexander, segera menghampiri dan memberikan pertolongan hingga Om Grasiano berhasil diselamatkan.
Di sisi lain, sejumlah warga hanya bisa menyaksikan dari tepian kali dengan rasa cemas. Teriakan minta tolong terdengar dari pinggir sungai, menggambarkan kepanikan warga yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut tanpa mampu berbuat banyak.
Peristiwa ini kembali membuka realitas pahit yang dihadapi masyarakat Numponi. Ketiadaan jembatan atau akses penyeberangan yang memadai memaksa warga mempertaruhkan keselamatan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kali Numponi yang kerap meluap setiap musim hujan kini bukan sekadar aliran air, melainkan ancaman nyata bagi kehidupan warga. Desakan kepada pemerintah untuk segera membangun jembatan permanen pun kembali menguat.
Tanpa langkah konkret, peristiwa serupa dikhawatirkan akan terus berulang—dan bukan tidak mungkin, suatu saat akan kembali menelan korban jiwa.
Editor: Jery Manek

















