ANAMBAS, Radar Perbatasan.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Anambas harus terhenti sejenak. Badan Gizi Nasional (BGN) resmi membekukan operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Pangan Intan Permata menyusul insiden keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar.
Tercatat, sebanyak 155 siswa di Kecamatan Siantan Tengah mengalami gejala keracunan usai menyantap paket makanan dari program tersebut. Langkah tegas diambil pemerintah pusat untuk memastikan keamanan pangan bagi anak sekolah.
“Dapurnya sudah kami suspend (tangguhkan),” tegas Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, saat dikonfirmasi pada Kamis 16 April 2026.
Investigasi Menyeluruh dan Absennya Ahli Gizi
Penutupan sementara ini bukan tanpa alasan. BGN tengah melakukan “bedah total” terhadap seluruh alur produksi makanan di dapur tersebut. Fokus investigasi meliputi:
* Kualitas bahan baku yang digunakan.
* Prosedur pengolahan makanan di dapur.
* Sistem distribusi hingga ke tangan siswa.
Hal yang mengejutkan, BGN menemukan adanya kejanggalan dalam pengawasan mutu. Diketahui, ahli gizi yang bertugas, Eryanti, diduga tidak mendampingi proses memasak saat hari kejadian. Sosoknya baru muncul ke permukaan setelah kasus keracunan ini menjadi konsumsi publik.
“Kami masih menyelidiki semuanya. Semua sedang dalam proses,” tambah Nanik singkat.
Pemkab Anambas Minta Warga Tenang
Menanggapi musibah ini, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas langsung bergerak cepat memberikan pendampingan kepada para korban. Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas kondisi para siswa.
“Kita dari pemerintah daerah sangat prihatin terhadap siswa-siswa kita yang terindikasi keracunan akibat makan MBG,” ujar Raja Bayu.
Dia juga meminta para orang tua dan masyarakat luas untuk tidak terjebak dalam spekulasi atau kabar burung yang beredar di media sosial. Raja memastikan bahwa hasil uji laboratorium dan investigasi akan dibuka secara transparan kepada publik.
“Yang jelas masyarakat jangan termakan isu yang belum jelas kebenarannya. Nanti apa pun hasilnya akan kita sampaikan secara terbuka,” pungkasnya.
Editor: Budi Adriansyah
Penulis: II

















