banner 728x250

Semangat Tanpa Batas Affan: Siswa Difabel yang Bermimpi Jadi Guru Komputer di Balik Rak Perpustakaan Kepri

Melampaui Keterbatasan Fisik, Muhammad Affan Buktikan Dedikasi Luar Biasa Selama Magang di Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi

banner 120x600
banner 468x60

TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Senyum manis Muhammad Affan menjadi pemandangan hangat bagi setiap pengunjung yang melangkah ke Ruang Baca Anak, Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, Kepulauan Riau. Pada Jumat 10 April 2026 itu bukan sekadar hari biasa; itu adalah hari-hari terakhirnya mengabdi sebagai siswa magang sebelum kembali ke bangku sekolah.

Remaja berusia 18 tahun ini adalah penyandang tuna daksa dari SLB Negeri 1 Tanjungpinang. Meski memiliki keterbatasan gerak tubuh, nalar dan semangatnya justru melesat melampaui fisik yang terbatas. Sejak Januari lalu, dia telah menanamkan disiplin dan keramahan di setiap sudut perpustakaan milik Pemprov Kepri tersebut.

banner 325x300

Rutinitas Pagi dan Jiwa Melayani

Affan tidak sekadar hadir. Sejak pukul 07.00 WIB, dia sudah bergulat dengan tumpukan literasi. Tangannya dengan cekatan menyusun buku kembali ke rak sesuai kode, memastikan alat peraga anak-anak tertata rapi, hingga berdiri siaga di depan pintu.

“Selamat datang, silakan masuk,” sambutnya ramah kepada setiap pengunjung.

Bagi Affan, magang bukan sekadar syarat kelulusan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Dia tampak sangat menikmati perannya. Dia fasih menjawab pertanyaan pengunjung, mulai dari letak buku hingga sekadar berbagi cerita ringan. Di balik keterbatasannya, mengalir jiwa pelayan publik yang tulus.

Mimpi Besar: Merantau ke Padang demi Menjadi Guru

Affan adalah sosok visioner. Sulung dari tiga bersaudara ini memiliki cita-cita yang konkret: dia ingin menjadi Guru Komputer. Untuk mewujudkannya, dia berencana melanjutkan pendidikan tinggi ke Padang, Sumatera Barat, yang menurutnya memiliki fasilitas pendidikan inklusif yang mumpuni.

Jarak ribuan kilometer dan keharusan meninggalkan orang tua serta kedua adiknya tidak membuatnya gentar. Bagi Affan, mimpi besar butuh pengorbanan besar.

“Saya ingin kembali ke sekolah asal saya (SLB Negeri 1 Tanjungpinang) nanti sebagai guru,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.

Harapan untuk Kebijakan yang Inklusif

Di balik semangatnya, Affan menyimpan harapan besar pada pemerintah daerah. Mengetahui kondisi ekonomi keluarga, ayahnya seorang buruh bangunan dan ibunya pengojek antar-jemput sekolah, Affan sangat berharap pada program beasiswa.

Dia menitipkan pesan lewat ceritanya:

* Kuota Beasiswa Khusus: Berharap dari ribuan beasiswa Gubernur Kepri, ada porsi khusus bagi siswa berkebutuhan khusus yang ingin kuliah.
* Peluang Kerja: Menginginkan penambahan kuota CPNS maupun P3K jalur disabilitas agar anak-anak seperti dirinya bisa ikut membangun Kepulauan Riau.

Menutup Lembaran Indah

Senin depan, sang guru akan menjemputnya untuk kembali ke sekolah. Masa magang ini akan berakhir, namun kesan yang ditinggalkan Affan di Perpustakaan Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi takkan mudah luntur.

Dia merasa diterima, dihargai, dan setara. Pengalaman ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan salah satu lembaran hidup paling berwarna yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Editor: Budi Adriansyah

banner 325x300
error: Content is protected !!