TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Jumat pagi 3 April 2026, lini masa grup Facebook InfoPinang mendadak riuh. Pemicunya adalah sebuah unggahan dari akun bernama Udin Samsuri. Bukan soal politik atau gosip artis, melainkan soal sesuatu yang sangat mendasar dan menyentuh “dompet” rumah tangga: tagihan air PDAM.
Udin tampak terperanjat. Bagaimana tidak? Tagihan air bulan Maret miliknya tembus di angka Rp750.000. Padahal, biasanya dia hanya cukup merogoh kocek sekitar Rp100.000. Sebuah lonjakan yang tidak hanya drastis, tapi juga fantastis, tujuh kali lipat lebih!
Logika yang Tak Masuk Akal
Udin pun membeberkan kalkulasi penggunaan air di rumahnya. Logikanya sederhana:
* Hanya ada 3 orang penghuni rumah.
* Urusan cuci pakaian diserahkan ke laundry (tidak pakai air rumah).
* Air praktis hanya digunakan untuk mandi, buang air, dan rutinitas ibadah rutin.
“Masa tagihannya bisa segitu?” mungkin begitu pikirnya.
Unggahan ini bak menyulut sumbu pendek di tengah masyarakat. Komentar pun berdatangan, mengonfirmasi bahwa Udin tidak sendirian dalam “drama” air ini.
Suara-Suara Senasib
Mariance Mantau, warga perumahan Galaxy, ikut menimpali. Dia mengeluhkan tagihan mencapai Rp350.000 meski hanya tinggal bertiga dengan aktivitas mencuci yang minimalis. Namun, ada poin menarik dari ceritanya: dugaan pemindahan golongan tarif.
Mariance mengaku sempat didatangi juru periksa PDAM yang berencana menaikkan tarif rumahnya ke golongan bisnis hanya karena dia membuka warung kecil. Padahal, usahanya sama sekali tidak menggunakan air dalam skala besar seperti depot air minum atau jasa laundry. Inilah dilema ibu rumah tangga: niat hati membantu ekonomi keluarga, malah tercekik tarif air “bisnis”.
Senada dengan itu, akun Ray Rey juga mengonfirmasi adanya kenaikan hingga dua kali lipat yang dia rasakan secara tiba-tiba.
Ironi: Bayar Mahal vs Air Tak Jalan
Namun, di tengah hiruk-pikuk tagihan mahal, muncul ironi lain yang tak kalah getir. Nur Rahmansyaah, warga Perumahan Griya Hang Tuah Permai, justru mengeluhkan kondisi yang bertolak belakang: air sudah hampir dua minggu tidak mengalir.
Hal ini dipertegas oleh Riko Saputra. Dia justru mengalami penurunan tagihan dari Rp150.000 menjadi Rp90.000. Alasannya miris: karena air di rumahnya mampet total sejak 21 Maret lalu.
Menanti Jawaban “Atas”
Warga kini mulai bertanya-tanya. Apakah ada kenaikan tarif diam-diam? Apakah ada kebocoran pipa yang tak terdeteksi? Atau adakah kesalahan dalam pembacaan meteran?
Beberapa anggota komunitas bahkan mulai “mencolek” tokoh masyarakat setempat, seperti Rudy Chua, berharap keluhan sistemik ini sampai ke telinga pengambil kebijakan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Tanjungpinang masih menunggu penjelasan resmi dari pihak PDAM. Di grup InfoPinang, diskusi masih terus bergulir. Satu hal yang pasti: bagi warga, air bukan sekadar angka di meteran, tapi urat nadi kehidupan yang seharusnya tidak membuat kantong “kering”.
Editor: Budi Adriansyah

















