banner 728x250

Waduk Melompong, Rakyat Haus: Ide ‘Lori Pemprov’ Fitriyani di Tengah Dahaga Tanjungpinang-Bintan

Dilema Air Bersih di Bumi Gurindam: Antara Sumur Kering, Bisnis Air yang Kewalahan, hingga Harapan Intervensi Pemerintah

banner 120x600
banner 468x60

TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com – Suasana Lebaran hari ketiga di Tanjungpinang dan Bintan tahun ini tidak hanya diwarnai dengan aroma ketupat, tapi juga kepulan debu kemarau. Di tengah sukacita Idul Fitri, sebuah kegelisahan menyeruak ke permukaan: Air bersih sudah jadi barang mewah.

Isu ini meledak setelah seorang warga bernama Fitriyani melempar “bola panas” berupa usulan terbuka di grup media sosial InfoPinang, pada Senin 23 Maret 2026. Tulisannya bukan sekadar keluh kesah, melainkan sebuah jeritan warga yang melihat sumur-sumur mereka kini hanya menyisakan tanah retak.

banner 325x300

Dahaga di Balik Kemarau Panjang

Kondisi di lapangan memang sedang tidak baik-baik saja. Meski hujan sempat menyapa selama dua hari, debit air di waduk-waduk utama Tanjungpinang dan Bintan terus menyusut drastis. Dampaknya? Pengusaha air bersih kewalahan. Telepon mereka berdering tanpa henti, namun pasokan tak lagi sanggup mengejar ribuan permintaan warga yang haus.

“Bahkan warga terpaksa membeli air, itupun sekarang banyak yang tidak merespons saking banyaknya permintaan,” tulis Fitriyani dalam unggahannya.

Solusi ‘Lori Air’ Pemerintah

Fitriyani tidak datang dengan tangan kosong. Dia membawa usulan konkret: Kolaborasi lintas daerah. Dia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri, Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjungpinang, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan duduk bersama.

Logikanya sederhana:

* Manfaatkan stok air di waduk pusat pemerintahan Bintan yang masih tersedia.
* Pemerintah menganggarkan dana sewa lori (truk tangki) air.
* Distribusikan air tersebut secara gratis kepada warga yang membutuhkan.

Satu catatan penting darinya: Jangan sampai ada oknum yang menjual air bantuan ini.

Pro, Kontra, dan Realita Lapangan

Unggahan ini bak pemantik api. Beragam komentar muncul, mencerminkan betapa kompleksnya masalah air di Kepulauan Riau.

Budhi Kurniawan, seorang netizen, menyarankan jalur birokrasi yang lebih tertib.

“Buat laporan ke RT/RW, koordinasi ke Lurah, biar BPBD yang turun. Hidup jangan dibuat ribet,” cetusnya.

Di sisi lain, Yusnaidi Eddy menyinggung soal aset lama yang terbengkalai. Dia mempertanyakan nasib proyek pengolahan air laut menjadi air tawar di Batu Hitam yang kini seolah menjadi “besi tua”.

Sementara Ican Tan lebih memilih pendekatan teknologi: “Minimal rekayasa cuaca lah agar hujan turun.”

Namun, peringatan paling keras datang dari Santi Suranti. Dia menyoroti akar masalah yang lebih dalam: kerusakan lingkungan.

“Hutan di sekitar waduk tolong jangan ditebas. Jika tidak tegas, 20 tahun mendatang anak cucu kita yang kesulitan,” tegasnya.

Ibadah di Balik Kerongkongan

Menutup usulannya, Fitriyani menyelipkan pesan spiritual yang menyentuh. Baginya, memberi minum orang yang kehausan adalah ibadah dengan pahala setara haji. Jika pemerintah bisa menggerakkan “berlori-lori” air, tak terbayangkan pahala yang mengalir bagi sang pemimpin yang budiman.

Kini, bola ada di tangan pemerintah. Akankah usulan “Lori Air” ini terealisasi? Ataukah warga Tanjungpinang-Bintan harus terus menatap langit, menunggu keajaiban hujan yang tak kunjung turun secara merata?

Editor: Budi Adriansyah

banner 325x300
error: Content is protected !!