SBD –
Pagi itu, Senin, 16 Maret 2026, suasana di Sumba Barat Daya terasa berbeda. Di tengah semangat membangun dari wilayah yang dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, Emanuel Melkiades Laka Lena hadir membawa satu pesan penting: kolaborasi adalah kunci menggerakkan ekonomi rakyat dan keluar dari jerat kemiskinan serta stunting.
Dalam pertemuan bersama para pemangku kepentingan daerah, Gubernur yang akrab disapa Melki ini tidak sekadar berbicara program. Ia merangkai benang-benang kebijakan dari pusat hingga daerah menjadi satu tarikan napas pembangunan yang utuh.
Baginya, keberhasilan pembangunan di Nusa Tenggara Timur sangat ditentukan oleh seberapa kuat sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten.
Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, berbagai program strategis nasional kini diarahkan untuk menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Mulai dari Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih, hingga Swasembada Pangan dan pembangunan rumah layak huni—semuanya, menurut Melki, harus mampu diterjemahkan secara konkret di daerah.
“Kalau dapur makan bergizi ini bahan bakunya diambil dari petani lokal, maka ekonomi akan berputar di desa,” kira-kira begitu gambaran sederhana yang ia tekankan. Sebuah pendekatan yang tidak hanya menyelesaikan masalah gizi, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Namun, bagi Melki, program tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Di tingkat provinsi, ia tengah memperkuat Tim Percepatan Pembangunan sebagai simpul koordinasi yang akan memastikan seluruh program—baik dari pusat maupun daerah—bergerak dalam satu arah.
Fokusnya jelas: mempercepat penguatan ekonomi rakyat sekaligus menekan angka kemiskinan dan stunting di NTT.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya yang dinilai telah bergerak cepat.
Berbagai inisiatif seperti pengembangan pariwisata, pemberdayaan UMKM, hingga pembukaan rute penerbangan baru di Tambolaka menjadi sinyal bahwa daerah ini siap bertumbuh lebih cepat.
Melki pun tidak melewatkan momentum untuk mendorong akses permodalan bagi masyarakat. Ia mengajak warga memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui bank-bank Himbara dan Bank NTT.
Baginya, keberanian untuk memulai usaha harus didukung dengan akses pembiayaan yang mudah dan tepat sasaran.
Optimismenya bukan tanpa alasan. Dengan potensi yang dimiliki, ia meyakini Sumba Barat Daya dapat berkembang menjadi pusat tata niaga barang dan jasa di daratan Sumba—sebuah visi yang menempatkan daerah ini sebagai simpul ekonomi baru di wilayah timur Indonesia.
Di sela kunjungan, Melki juga menunjukkan dukungan nyata terhadap produk lokal. Ia mengunjungi NTT Mart by Dekranasda dan membeli tenun, kopi, serta berbagai olahan pangan khas daerah.
Bagi Melki, keberpihakan pada produk lokal bukan sekadar simbol, melainkan langkah konkret menggerakkan ekonomi dari bawah.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda kerja rutin. Di tangan Emanuel Melkiades Laka Lena, Sumba Barat Daya menjadi potret bagaimana kebijakan bisa menyentuh langsung kehidupan masyarakat—menghidupkan dapur-dapur rumah tangga, menggerakkan usaha kecil, dan perlahan, menjahit harapan baru bagi Nusa Tenggara Timur.
Editor : Boni Atolan

















