BATAM, Radar Perbatasan.com – Akhir pekan biasanya menjadi waktu untuk bersantai, namun tidak bagi Lakuntara dan timnya. Pada Minggu, 15 Maret 2026, mereka memilih menyeberang menuju Pulau Akar, Kota Batam. Tujuannya satu: menyapa warga dan menyerap langsung denyut nadi kehidupan di wilayah kepulauan.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni formal. Sejak kaki menginjak dermaga, Lakuntara langsung berbaur dengan masyarakat dalam dialog santai yang penuh kehangatan. Tanpa sekat, warga pun tumpah ruah menyampaikan keluh kesah mereka, mulai dari sulitnya akses kebutuhan dasar hingga fasilitas publik yang butuh sentuhan perbaikan.
Sentuhan Kepedulian di Beranda Kepulauan
Sebagai bentuk nyata kepedulian, Lakuntara juga menyalurkan bantuan paket sembako. Bagi warga pulau, bantuan ini bukan sekadar pemenuhan pangan, melainkan simbol bahwa mereka tidak sendirian dan tetap menjadi bagian penting dari pembangunan Kota Batam.
“Kunjungan seperti ini sangat penting. Kita tidak boleh hanya duduk diam menerima laporan di balik meja. Mendengar aspirasi itu harus bertatap muka langsung dengan mereka yang merasakannya,” ujar Lakuntara di sela-sela kegiatannya.
Pendidikan dan Lingkungan Jadi Sorotan Utama
Selain berdialog, Lakuntara menaruh perhatian serius pada sektor pendidikan. Dia meninjau langsung prasarana sekolah di Pulau Akar untuk memastikan para siswa belajar di tempat yang layak. Baginya, fasilitas pendidikan di pulau harus setara dengan yang ada di pusat kota agar mencetak generasi unggul yang tak tertinggal.
Tak berhenti di situ, isu lingkungan turut menjadi catatan penting. Lakuntara mengamati langsung sistem pengelolaan sampah di pulau tersebut. Bersama warga, dia berdiskusi mencari solusi agar kebersihan laut dan lingkungan pemukiman tetap terjaga, demi keberlanjutan ekosistem pulau.
Mewujudkan Pembangunan Merata
Melalui turun lapangan ini, Lakuntara berharap setiap aspirasi yang tertangkap bisa menjadi bahan kebijakan yang tepat sasaran. Dia menekankan bahwa pembangunan di wilayah kepulauan harus berjalan selaras, merata, dan berkelanjutan.
“Dengan turun langsung, kita bisa memahami apa yang benar-benar mendesak, mulai dari urusan perut (kesejahteraan), pendidikan anak-anak kita, hingga kesehatan lingkungan,” pungkasnya.
Langkah Lakuntara di Pulau Akar ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati dimulai dari mendengar suara mereka yang berada di tepian.
Editor: Budi Adriansyah

















