TANJUNGPINANG, Radar Perbatasan.com -Di tengah gempuran investasi asing yang membanjiri Kepulauan Riau (Kepri), PT Gandasari Shipyard muncul sebagai anomali yang membanggakan. Perusahaan galangan kapal ini menegaskan jati dirinya sebagai investasi murni “Anak Watan” alias putra daerah Kepri.
Hal tersebut ditegaskan oleh Humas PT Gandasari Shipyard, Abang Ibrahim, yang lebih akrab disapa Ucok Pelasah, saat menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama puluhan awak media di Qozy Caffe, Tanjungpinang, pada Selasa, 10 Maret 2026.
Kekuatan Lokal di Industri Maritim
Ucok mengungkapkan, PT Gandasari merupakan bukti nyata bahwa pengusaha lokal mampu berbicara banyak di industri maritim yang padat modal. Nama di balik layar perusahaan ini adalah Andi, putra dari tokoh legendaris almarhum Acok CK.
“Perlu dicatat, Gandasari tidak memakai investasi asing. Ini murni investasi anak daerah, anak jati diri Kepri. Kami memang belajar konsep dari Cilegon, tapi secara kepemilikan, ini milik kita sendiri,” ujar Ucok dengan nada tegas.
Meski baru beroperasi sekitar tujuh bulan, progresnya mencengangkan. Saat ini, PT Gandasari sedang mengerjakan pesanan 35 unit tongkang dan 9 unit tugboat. Semua pengerjaan dilakukan di bawah bendera lokal.
Menyerap 1.049 Tenaga Kerja
Dampak ekonomi yang dihasilkan pun tidak main-main. Dalam waktu kurang dari satu tahun, PT Gandasari telah mempekerjakan 1.049 karyawan. Mayoritas berasal dari Tanjungpinang dan Bintan.
“Bayangkan, baru tujuh bulan saja kita sudah bisa menyerap seribu lebih tenaga kerja. Ini komitmen kami untuk mengurangi angka pengangguran di Kepri yang kita cintai ini,” tambahnya.
Tak puas sampai di situ, PT Gandasari berencana melakukan ekspansi besar-besaran. Perusahaan telah mengakuisisi lahan Korindo untuk perluasan area produksi. Ke depan, lokasi tersebut akan dikhususkan untuk pembuatan tugboat.
Menepis Isu Lingkungan
Terkait isu kerusakan lingkungan yang sempat berembus, Ucok menanggapinya dengan santai namun diplomatis. Dia menantang pembuktian data yang akurat daripada sekadar asumsi.
“Kalau ada yang bilang rusak parah, mana buktinya? Ada tidak foto udara atau drone yang membandingkan garis pantai satu tahun lalu sebelum kami ada dengan sekarang? Mari kita bicara data,” tantang Ucok.
Dia juga menjelaskan bahwa perusahaan sangat ketat dalam pengelolaan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Bahkan, PT Gandasari harus merogoh kocek dalam-dalam untuk bekerja sama dengan perusahaan pengelola limbah bersertifikasi di Batam agar standar lingkungan tetap terjaga.
Komitmen Sosial (CSR)
Menutup pembicaraan, Ucok memastikan bahwa PT Gandasari tidak akan menutup mata terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Program CSR itu pasti ada. Itu kewajiban yang diambil dari persentase keuntungan perusahaan. Kami sangat terbuka dengan aspirasi kawan-kawan media dan masyarakat, selagi itu tidak menyalahi aturan dan perusahaan mampu,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut berakhir hangat, menjadi sinyal bahwa kolaborasi antara industri besar dan media lokal sangat penting untuk menjaga iklim investasi yang sehat di Kepulauan Riau.
Editor: Budi Adriansyah
Penulis: BAr

















