Saumlaki –
Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) Alex Belay bersama sejumlah elemen kepemudaan menegaskan rencana aksi boikot terhadap seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek strategis nasional Blok Masela tetap akan dilaksanakan.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk protes karena sejumlah tuntutan pemuda dan masyarakat lokal dinilai belum mendapat kepastian dan jaminan konkret dari pemerintah maupun pihak operator proyek.
Alex Belay menegaskan bahwa sikap KNPI dan elemen pemuda tetap solid hingga ada kejelasan terkait tuntutan yang telah disampaikan.
“Agenda boikot ini adalah harga mati sampai hak-hak pemuda dan masyarakat Tanimbar diakomodir dalam draf kesepakatan yang jelas. Kami tidak ingin proyek sebesar ini justru mendatangkan ribuan tenaga kerja dari luar tanpa memberdayakan potensi lokal,” tegasnya di Saumlaki.
Menurutnya, fokus tuntutan pemuda Tanimbar antara lain menyangkut kepastian keterlibatan tenaga kerja lokal, terutama bagi anak daerah Maluku dan khususnya masyarakat Tanimbar agar dapat bekerja dalam proyek tersebut.
Selain itu, pemuda juga menuntut adanya pemberdayaan kelompok kepemudaan berbasis UMKM, sehingga masyarakat lokal dapat terlibat secara langsung dalam aktivitas ekonomi yang muncul dari proyek tersebut.
KNPI juga meminta transparansi terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan kejelasan kompensasi lahan, termasuk dampak lingkungan yang harus diselesaikan sebelum dimulainya aktivitas proyek di lapangan.
Tuntutan lainnya adalah keterlibatan vendor lokal, yang dinilai sebagai wujud keadilan ekonomi bagi masyarakat Tanimbar dalam proyek strategis nasional tersebut.
Sementara itu, pemerintah melalui Gubernur Maluku bersama SKK Migas menargetkan seremoni groundbreaking proyek Blok Masela akan dilaksanakan paling lambat akhir April 2026 atau setelah Lebaran.
Namun KNPI memperingatkan bahwa jika tidak ada dialog yang menghasilkan solusi nyata, rencana seremoni tersebut berpotensi mendapat penolakan dari massa aksi di lapangan.
(SW )

















