banner 728x250

Palu dan Semen Jadi Saksi: Perjuangan Rusli Kejar Upah Rp37 Juta Selama Setahun

Di Ambang Ramadan, Seorang Ayah Tiga Anak Terjepit Antara Janji yang Menggantung dan Tuntutan Hidup yang Menghimpit

banner 120x600
banner 468x60

Radar Perbatasan, Tanjungpinang – Terik matahari pernah menyaksikan keringat Rusli menetes di antara debu semen dan dentuman palu. Setahun lamanya, dia menumpahkan tenaga untuk membangun enam pintu ruko di Kampung Baru, Bintan. Namun jerih payah itu kini tinggal kenangan, tergantung begitu saja, tak kunjung berbuah.

Rusli, pekerja bangunan biasa yang juga ayah dari tiga anak, masih menunggu upah senilai Rp37 juta. Uang yang seharusnya menjadi berkah, malah berubah jadi beban yang menekan dada.

banner 325x300

Proyek ruko itu dikerjakannya untuk Asun, seorang kontraktor. Sejak pekerjaan rampung, janji pembayaran hanya tinggal janji. Telepon tak diangkat. Pesan singkat tak berbalas. Harapan perlahan sirna.

“Sudah mau setahun, Bang. Totalnya Rp37 juta. Saya hubungi dia tak pernah diangkat, WA tak dibalas. Mengeluh pun tak ada hasil,” ucap Rusli, suaranya bergetar menahan perasaan, pada Rabu, 18 Februari 2026.

Dampak Berantai yang Menghimpit

Lebih dari sekadar angka, tunggakan itu menyeret Rusli ke pusaran masalah yang tak pernah dia bayangkan. Dia harus menanggung upah tukang lain yang bekerja bersamanya. Kini, mereka justru mengejarnya, menuntut tanggung jawab, bahkan mengancam membawa persoalan ini ke ranah hukum. Dampaknya merambat ke rumah kecil yang dia sewa.

• Anak bungsunya, hingga kini belum bisa bersekolah karena tak ada biaya mengurus kepindahan administrasi dari kampung halaman ke Kepulauan Riau
• Anak keduanya, seorang siswi Madrasah Aliyah, menunggak uang sekolah hingga Rp3 juta
• Biaya kontrakan dan kebutuhan makan sehari-hari, kian menumpuk

“Saya mau mengadu ke siapa lagi, Bang. Anak nunggak sekolah, tukang yang saya bawa kerja mau laporkan saya ke polisi, rumah kontrakan nunggak, makan pun susah,” katanya lirih.

Janji yang Kembali Menggantung

Terpisah, tim kami mencoba mengonfirmasi Asun. Dia membenarkan adanya persoalan tersebut dan meminta waktu untuk menyelesaikannya.

“Ya benar. Saya nanti telepon Rusli. Beri saya kesempatan duduk dulu, kita hitung bersama-sama,” ujarnya singkat.

Namun janji itu kembali menggantung. Hingga berita ini ditulis, menurut Rusli, sisa pembayaran belum juga diterimanya.

Menyambut Puasa dengan Hati Berat

Di ambang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, Rusli hanya ingin menyambut puasa dengan hati yang lebih tenang.

“Saya sudah sampaikan ke dia, mau nyambut puasa. Tapi tetap tak dibalas, telepon maupun WA,” katanya pelan.

Bagi Rusli, puasa tahun ini bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Dia juga harus menahan perih, menunggu hak yang belum pasti, sembari berharap keadilan tak terus menghindar dari hidupnya.

Editor: Budi Adriansyah
Penulis: Aji Anugraha

banner 325x300
error: Content is protected !!