( Photo ; Koordinator Rental Malaka, Anton Mangu )
TTS, NTT —
Ruas jalan Boking–Kolbano–Batu Putih yang merupakan jalur vital transportasi di selatan Pulau Timor hingga kini masih dipenuhi semak belukar liar yang masuk ke bahu jalan serta sejumlah titik longsor yang membahayakan pengguna jalan.
Kondisi tersebut dinilai mengancam keselamatan dan menghambat mobilitas barang maupun orang, khususnya warga pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS)
Pantauan kondisi riil di lapangan menunjukkan persoalan terjadi hampir di sepanjang ruas jalan. Di wilayah Boking, terdapat titik longsor yang membutuhkan saluran pembuangan air yang representatif agar aliran air hujan tidak terus merusak badan jalan dan memperluas longsoran.
Pada Tanjakan Lopon, khususnya tanjakan pertama berbentuk huruf S, bahu dan badan jalan dipenuhi semak belukar sehingga sangat berbahaya bagi kendaraan yang melintas. Kondisi serupa juga ditemukan di Desa Saenam, di mana tanjakan berbentuk huruf S dengan bahu jalan kiri dan kanan tertutup semak liar yang terus “memakan” bahu jalan.
Memasuki wilayah Desa Op, perbatasan Kecamatan Nunkolo dan Amanuban, semak belukar kembali menutup bahu jalan dan mempersempit ruang pandang pengendara. Sementara di Desa Buisae hingga kawasan Oetuke, yang merupakan lokasi pariwisata, longsor justru terjadi di titik-titik strategis, termasuk di area spot foto yang menjadi daya tarik wisata.
Kondisi paling rawan dilaporkan terjadi pada longsor dekat Buisae, di mana batu-batu besar kerap menutupi badan jalan dan membahayakan pengguna, khususnya kendaraan pribadi yang tidak mengenal medan. Selain berisiko menimbulkan kecelakaan, longsor ini juga menghambat distribusi hasil bumi karena kendaraan angkutan terpaksa memutar jauh melalui jalur Kefamenanu–Soe.
Di wilayah Bena, tepatnya pada areal persawahan, kondisi jalan dilaporkan rusak parah. Pada musim hujan, badan jalan berubah menjadi aliran air sehingga kendaraan kerap harus menunggu berjam-jam hingga debit air surut untuk dapat melintas
Dampak kondisi tersebut sangat dirasakan masyarakat. Warga TTS bagian pedalaman menggantungkan akses transportasi barang dan orang melalui jalur selatan Pulau Timor, khususnya ruas Boking–Kolbano–Batu Putih. Aktivitas jual beli hasil bumi dan ternak warga Oinlasi dan Niki-niki kerap terhambat akibat longsor serta bahu jalan yang tertutup belukar.
“Longsor dan semak belukar di bahu jalan ini sangat mengganggu. Selain berbahaya, juga menghambat pengangkutan hasil pertanian dan ternak,” ujar Frid, senior travel rute Malaka–Kupang.
Hal senada disampaikan Anto Mangu (A’M), Koordinator Travel Malaka. Ia menegaskan kondisi jalan yang rusak dan rawan longsor membuat waktu tempuh tidak menentu serta meningkatkan risiko kecelakaan bagi penumpang.
“Kalau longsor tidak segera ditangani, kami terpaksa memutar jauh. Ini merugikan masyarakat dan pelaku transportasi,” katanya, Minggu (8/2/2026).
Masyarakat dan pelaku transportasi meminta Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas PUPR bersama Pemerintah Kabupaten TTS segera berkolaborasi melakukan penanganan serius, baik perbaikan badan jalan, penanganan titik-titik longsor, maupun pembersihan semak belukar yang telah masuk ke bahu jalan.
Selain itu, Bupati TTS diminta berkoordinasi dan menginstruksikan para camat serta pemerintah desa di sepanjang jalur selatan Pulau Timor, khususnya ruas Boking–Kolbano, untuk melakukan pembersihan rutin bahu jalan dan lingkungan sekitar demi menciptakan rasa aman dan nyaman bagi pengguna jalan.
Masyarakat juga mengingatkan agar pemerintah tidak menunggu terjadinya kecelakaan maut sebagai “pembelajaran mahal” sebelum bertindak. Peristiwa kecelakaan yang selama ini dialami warga seharusnya menjadi peringatan serius, bukan alasan untuk saling berpendapat setelah korban berjatuhan.
Untuk itu, masyarakat memohon perhatian sungguh-sungguh dari Gubernur NTT dan Bupati TTS agar segera mengambil langkah konkret dan terukur. Kolaborasi lintas pemerintah dinilai mendesak agar jalur selatan Pulau Timor kembali berfungsi optimal sebagai akses utama transportasi, mendukung aktivitas ekonomi warga, serta menjamin keselamatan pengguna jalan
Editor : Boni Atolan

















